Kontroversi Klaim Clara Mendaki Puncak Everest

19 10 2009

Clara Jakarta – Klaim Clara Sumarwati sebagai wanita Indonesia pertama yang berhasil mendaki puncak Gunung Everest menjadi kontroversi. Kisah kontroversi ini sudah terjadi sejak lama sebelum dia dirawat di RS Jiwa (RSJ) Prof dr Soerojo, Magelang. Di banyak  kalangan para pendaki gunung, Clara tidak bisa membuktikan bahwa dia mencapai puncak Everest.

Clara yang kini berusia sekitar 45 tahun mengaku berhasil mencapai puncak gunung tertinggi di dunia, 8.848 mdpl, itu pada April 1996. Namun, dia tidak memiliki foto atau dokumentasi saat berada di puncak gunung yang jadi dambaan banyak pendaki itu.
Kisah kontroversi ini sudah menyebar luas, termasuk di media-media internet. Dan kisah ini mengemuka kembali setelah muncul pemberitaan Clara Sumarwati yang dirawat di RSJ.

Serka Asmujiono, prajurit TNI yang anggota Kopassus, merupakan salah seorang yang memiliki cerita tentang Clara. Dia mengaku bahwa di kalangan pendaki gunung, pengakuan Clara menjadi orang Indonesia pertama yang sampai ke puncak Everest memang diragukan, karena tidak ada bukti.

"Yang diperlukan bagi pendaki adalah kejujuran. Meski begitu, saya pribadi sangat bangga terjadap Ibu Clara karena beliau adalah perempuan yang berani mendaki Everest, terlepas beliau sampai puncak atau tidak," ujar Asmujiono, kini berusia 39 tahun, saat berbincang-bincang dengan detikcom, Selasa (13/10/2009).

Asmujiono menyampaikan sebuah cerita mengapa klaim Clara bisa mencapai puncak Everest diragukan. Suatu saat pada tahun 1997, Tim Kopassus bersama Wanadri, Mapala UI, Rakata, RCTI, dan beberapa kelompok pecinta alam lainnya  tengah bersiap untuk melakukan ekspedisi Everest. Agar misi itu sukses, segala persiapan dilakukan, termasuk tim meminta kepada Clara berbagi sukses mencapai puncak Everest.

"Namun, meski kami meminta berkali-kali, Ibu Clara tidak pernah mau datang. Kami tidak tahu mengapa Ibu Clara tidak mau menghadiri undangan itu. Padahal Ibu Clara salah satu yang kami andalkan, agar kami juga bisa sukses mendaki puncak Everest," ujar Asmujiono.
Akhirnya tim diberangkatkan, meski gagal menghadirkan Clara saat persiapannya. Asmujiono yang saat itu berumur 25 tahun menjadi salah satu anggota tim.

"Akhirnya, tim kami berangkat ke sana untuk mendaki puncak Everest, sekaligus menelusuri klaim Ibu Clara apakah benar menjadi orang Indonesia pertama yang berhasil mendaki puncak Everest. Kami menelusuri ini dengan dilatarbelakangi Ibu Clara yang tidak pernah mau berbagi kisah bagaimana bisa mencapai puncak," ujar dia.

Singkat kata, setelah mencari informasi ke berbagai pihak di Nepal, Asmujiono dan tim mendapat informasi bahwa Clara dan timnya pada 1996 memang mendaki gunung yang berada di Nepal itu. Namun, klaim Clara mencapai puncak Everest diragukan, karena tidak ada bukti.

"Penelusuran teman-teman, Clara memang mendapat sertifikat dari asosiasi pendaki Everest di Nepal. Nama dia tercatat. Namun, pemberian sertifikat itu juga mencatatkan syarat agar Ibu Clara melengkapi bukti-buktinya. Namun, kabarnya Ibu Clara tidak pernah bisa memberikan bukti itu," kata Asmujiono.

Setahu Asmujiono, ada persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi agar dicatat sebagai pendaki puncak Everest. Selain mencatat waktu saat di puncak, pendaki juga harus menyerahkan bukti foto dan video di puncak Everest itu. Salah satu tanda puncak Everest adalah tiang segitiga yang menandakan titik paling tinggi.

 

Berbagai Kejanggalan Klaim Clara & Kisah Foto Terbakar

Kontroversi keberhasilan Clara Sumarwati mencapai puncak Mount Everest telah muncul sejak kepulangannya ke Indonesia. Para pendaki saat itu meragukan Clara telah menjejakkan kaki di puncak gunung tertinggi di dunia itu. Banyak kejanggalan atas klaim Clara.
Muhammad Gunawan, seorang pendaki gunung di era 1996 mengaku melihat beberapa kejanggalan dari bukti-bukti yang diungkapkan Clara. Hal pertama yang membuat pria yang akrab disapa Ogun itu tidak percaya adalah waktu yang dibutuhkan Clara untuk mencapai puncak.

"Dari cerita yang saya dapat, ada beberapa yang menurut saya nggak match," kata Ogun saat berbincang dengan detikcom, Selasa (13/10/2009).
Selain mendapat cerita dari Clara melalui telepon, Ogun juga sempat bertemu dengan Gibang Basuki, anggota Koppasus yang mendampingi Clara mendaki Everest pada 1996. Menurut dia, saat pendakian itu, Clara berpisah dengan Basuki di camp 5. Mereka berpisah selama dua malam.

"Dari cerita itu, saya mulai nggak yakin kalau dia mencapai puncak, karena medan dari camp terakhir sampai puncak itu berat sekali. Masak dia bisa mencapainya dalam waktu 2 malam," kata Ogun.

Ogun mengatakan, sebenarnya medan tersebut bisa saja ditempuh dalam waktu dua malam. Namun orang yang menaklukkan tersebut harus orang yang sudah lihai dan kuat.
"Sedang saya kira, Clara nggak sekuat itu karena selama ini, di antara teman-teman pendaki, dia yang paling lambat. Dia bisa butuh waktu 4 sampai 5 malam," kata pria yang pernah menjadi pelatih Clara saat pendakian Gunung
Acontagua itu.

Kesangsian Ogun terhadap Clara semakin tebal ketika melihat foto-foto Clara selama melakukan pendakian. Menurut dia, dari semua foto yang ada, tidak ada satu pun yang menunjukkan Clara sedang berada di puncak.
"Foto yang dia bilang di puncak, itu bukan di puncak. Itu jalur menuju puncak, antara camp 5 ke ketinggian 7.700 meter," kata Ogun. Puncak Everest sendiri berada di ketinggian 8.848 mdpl.

Ogun mengatakan, mengenai foto yang selalu diklaim foto berada di puncak Everest, dirinya sempat meminta klarifikasi Clara. Saat itu, Clara berjanji akan menampilkan foto tersebut.
"Kan di puncak Everest itu ada semacam tiang puncak, nah di foto Clara tidak ada itu. Saya sempat tanya dan dia bilang akan kasih, tapi sampai sekarang nggak dikasih-kasih juga. Akhirnya saya dengar katanya fotonya terbakar," kata Ogun.

Adanya sertifikat-sertifikat yang dikeluarkan berbagai organisai pendakian yang diperoleh Clara juga tidak dapat menyakinkan Ogun dan para pendaki saat itu. Menurut dia, saksi yang menyaksikan Clara menginjakkan kaki di puncak Everest juga tidak bisa memberikan bukti-bukti yang jelas. "Keterangannya juga lari-lari, nggak jelas," kata Ogun.

Keraguan itu semakin kentara setelah Clara seperti enggan memberikan klarifikasi. "Dia berjanji mau bikin presentasi soal keberhasilan itu, tapi tidak pernah terjadi. Dia seakan lari-lari, tidak mau memberi penjelasan," kata pendaki yang sudah dua kali mencoba menaklukkan Everest itu.

Kontroversi soal pendakian Clara ke Everest itu muncul kembali saat berita soal dirawatnya Clara di rumah sakit jiwa muncul ke media. Pendaki perempuan yang disebut-sebut menjadi perempuan pertama yang menjejakkan kaki di Puncak Everest itu mengalami gangguan jiwa. Konon karena Clara merasa prestasinya tersebut tidak dihargai, meski dia pernah dianugerahi Bintang Nararya oleh pemerintah.

 

Asmuji Tak Persoalkan Siapa Pendaki Puncak Everest Pertama dari RI

Asmuji

Serka Asmujiono, anggota TNI Kopassus, berhasil mencapai puncak gunung Everest pada April 1997. Di tengah kontroversi siapa pendaki puncak Everest pertama dari Indonesia, Asmujiono tidak mempersoalkannya. Namun, kata dia, perlu keterbukaan dan kejujuran bila ada pendaki yang berhasil mendaki puncak Everest.

Klaim Clara Sumarwati sebagai orang pertama Indonesia yang berhasil mendaki puncak Everest memang sudah menggema sejak 1996, beberapa saat setelah Clara pulang ke Indonesia. Namun setelah itu muncul kontroversi karena Clara tidak bisa membuktikan bahwa dia mencapai puncak. Berbagai keganjilan pun muncul. Setelah ekspedisi itu, Clara pun masuk RS Jiwa di Magelang. Dia dirawat berkali-kali sejak 1997 dan saat ini masih dirawat di RS tersebut.

Bila Clara tidak mencapai puncak Everest, maka orang Indonesia pertama yang bisa mendaki puncak Everest adalah Asmujiono. Dia mendaki Everest pada 1997 bersama Tim Kopassus yang dibentuk oleh Danjen Kopassus saat itu, Mayjen Prabowo Subianto. Saat itu, Asmujiono masih berumur 25 tahun dan berpangkat sersan satu. Tim terdiri dari Kopassus, Wanadri, Mapala UI, Rakata, RCTI, dan beberapa kelompok pecinta alam lainnya.
Secara pribadi, Asmujiono tidak mempersoalkan siapa pendaki pertama puncak Everest dari Indonesia. Yang pasti, pria yang sering disapa Asmuji itu bangga dengan prestasinya mencapai puncak Eversest dalam ekspedisinya, setahun setelah ekspedisi yang dilakukan Clara. Bila memang Clara disebut sebagai pendaki puncak Everest pertama dari Indonesia, Asmuji tidak mempermasalahkannya.

"Saya bangga seorang putri seperti Ibu Clara memiliki semangat yang luar biasa dan berani mendaki Everest. Terlepas dia sampai puncak atau tidak, saya tetap bangga dengan Ibu Clara," kata Asmuji saat berbincang-bincang dengan detikcom, Selasa (13/10/2009).
Dia mengaku klaim Clara sebagai pendaki puncak Everest memang diragukan dan menjadi kontroversi. Banyak pihak meragukan Clara, karena tidak memiliki bukti kuat. Karena itu, Asmuji berharap Clara bisa terbuka dan jujur dengan klaim ini, dan bisa memberikan bukti-bukti sehingga klaimnya tidak diragukan.

Ekspedisi Everest 1997
Ekspedisi ke Gunung Everest memang tidak mudah. Perlu waktu persiapan lama dan dana yang cukup banyak untuk mendaki gunung tertinggi di dunia yang terletak di Nepal ini. Gunung ini memiliki ketinggian 8.848 mdpl.

Asmuji yang memang sudah berprestasi dalam pendakian gunung di Indonesia diikutkan dalam Ekspedisi Everest yang digagas Danjen Kopassus pada 1997. Setelah diseleksi, ada 33 orang yang tergabung dalam tim ini dan diberangkatkan ke Nepal.

Di Nepal, dilakukan seleksi kembali. Hasilnya 16 orang terpilih untuk mendaki Everest, termasuk Asmuji. Tim dibagi menjadi dua. Satu tim yang terdiri dari 10 Orang diberangkatkan melalui sisi selatan, sedangkan tim lainnya yang berjumlah 6 orang diberangkatkan dari sisi utara. Asmuji masuk tim yang diberangkatkan dari sisi selatan.

Pendakian pun dilakukan. Beberapa orang di tim Asmuji berguguran. Sampai akhirnya, terpilih 3 orang yang tercepat untuk terus melanjutkan ke puncak Everest. Asmuji menjadi salah satu dari tiga orang yang terpilih itu. Dua orang lainnya adalah Kapten Misirin (Kopassus) dan Letkol Iwan Setiawan yang menjadi komandan tim (Kopassus). Dua orang dipilih sebagai cadangan, yaitu Sugiarto (FPTI/Federasi Panjat Tebing Indonesia) dan Sertu Parno (Kopassus).

Tiga orang yang terpilih itu kemudian mendaki dari satu camp ke camp yang lebih tinggi. "Saya akhirnya yang berhasil sampai Puncak. Saya tiba di Puncak pada 26 April 1997, pukul 15.40 waktu Nepal," ujar Asmuji.

Sayang, dua pendaki dari Kopassus gagal sampai ke titik puncak. Kapten Misirin hanya bisa sampai titik 16 meter sebelum titik puncak, meski sudah berada di area puncak. Sedangkan Iwan Setiawan hanya bisa sampai di titik 30 meter sebelum puncak. "Dari ekspedisi ini, saya dan Kapten Misirin yang mendapat sertifikat sebagai Summiter," terang Asmuji.

Agar keberhasilannya sampai puncak tidak diragukan, Asmuji pun menyiapkan bukti, termasuk foto dan video. Dia juga berpose mengenakan baret merah Kopassus dan memasang bendera Merah Putih di tiang segitiga di titik tertinggi puncak Everest. Nama Asmuji pun tercatat sebagai pendaki puncak Everest di everesthistory.com. Saksi-saksi bahwa dia sampai di puncak pun sangat banyak, tidak seperti yang dialami Clara.

 

FMI Minta Kontroversi Soal Prestasi Clara Dihentikan

Clara Sumarwati menderita depresi karena prestasinya mendaki Everest menjadi kontroversi. Pendaki Everest pertama dari Indonesia ini bahkan harus dirawat di RSJ. Federasi Mountaineering Indonesia (FMI) pun meminta agar kontroversi soal keberhasilan Clara dihentikan.

"Kalau sudah tercatat, dan ada buktinya pernah mencapai puncak Everest, tidak perlu ada kontroversi," ujar pengurus FMI, Jody Tirie, saat dihubungi detikcom, Senin (12/10/2009).
Jodie meminta semua pihak berjiwa besar atas prestasi Clara. Menurutnya sangat disayangkan jika Clara sampai menderita depresi karena prestasinya tidak diakui.

"Kenapa kita tidak bisa menghargai prestasi orang lain," pungkas pria yang sedang menjalankan misi pendakian ke tujuh puncak tertinggi dunia ini.
Berdasarkan everesthistory.com, situs yang memuat nama-nama pendaki puncak tertinggi tersebut, Clara tercatat telah menggapai puncak tertinggi Everest pada tanggal 26 September 1996. Lima orang sherpa (seperti guide), yang mendampingi Clara selama pendakian juga tercatat mencapai puncak. Mereka adalah Ang Gyalzen, Chuwang Nima, Dawa Tshering, Gyalzen, dan Kaji.

Wanita berusia 44 tahun ini kini dirawat di (RSJ) Prof dr Soerojo, Magelang, Jawa Tengah. Keluarga dan lingkungannya menolak Clara kembali ke tengah-tengah mereka.

 

Clara Sering Mengamuk di Rumah Jika Sedang Kumat

Clara Sumarwati, wanita Indonesia pertama yang berhasil mencapai puncak Mount Everest, selama hampir 10 tahun mengalami depresi. Jika sedang kumat, dia sering marah, berteriak-teriak dan mengamuk hingga merusak rumah beserta perabotannya.

Clara tinggal di kampung Minggiran RT 56/RW 15, Kelurahan Suryodiningratan, Kecamatan Mantrijeron, Kota Yogyakarta. Tak hanya merusak barang, dia juga kerap menjadikan orang lain, seperti ibunya, orang yang kos di rumahnya dan tetangga sekitar, sebagai sasaran amukan.

Hal inilah yang membuat warga setempat keberatan bila Clara kembali ke rumah yang berada di kawasan padat pemukiman itu. Ibu kandung Clara, Ny Anna Suwati (76), paling sering mendapat omelan tanpa sebab oleh putri keenam dari 8 bersaudara itu.

Sekitar 4 bulan lalu depresi Clara sempat kumat dan kembali merusak rumah. Warga bahkan sampai mengungsikan ibunya ke rumah anaknya yang lain di Bekasi. Sedangkan Clara di bawa ke RSJ Prof Dr Soerojo, Kota Magelang untuk menjalani perawatan.

"Bila depresinya muncul, rumah ini sering menjadi sasaran kemarahan Clara yang tidak jelas. Keluarga sudah berupaya untuk menyembuhkan," kata ibu kandung Clara, Anna Suwarti, saat ditemui di rumahnya, Rabu (14/10/2009).

Menurut Anna, gejala depresi terjadi sejak Clara pulang dari pendakian Mount Everest 12 tahun silam. Clara merasa banyak pihak meragukan atas prestasi yang berhasil diraihnya. Dia sering berkeluh-kesah, banyak orang yang merasa memusuhinya. Setelah itu, dia mengalami guncangan jiwa yang diluapkan dalam bentuk kemarahan dan merusak perabotan rumah.
"Dia pernah mengeluh, sudah bolak-balik naik gunung, kok tidak mendapat apa-apa. Saya saat ini hanya meminta dia untuk bersabar," ungkap Anna.

Anna menambahkan, keluarga juga sudah berupaya mengobati Clara ke RSJ Puri NIramala, Yogyakarta dan RSJ di Magelang. Namun Clara tak kunjung sembuh total. Penyakit Clara berulang kali kambuh sehingga sedikitnya sudah tiga kali dirawat di RSJ Magelang.
Saat mengalami depresi yang terakhir, semua orang yang kos di tempat itu diusirnya. Beberapa perabot rumah termasuk pintu rumah dan langit-langit rumah juga dirusak sehingga menimbulkan gangguan di sekitar rumah.

"Saya pun terpaksa mengungsi ke rumah anak saya di Bekasi. Selama perawatan dan pengobatan di Magelang ditanggung keluarga yang ada di Yogya," katanya.

 

Versi lain setelah brosing di Dunia maya:

everestnews.com

Clara Sumarwati [The First Ever South-East Asian To Have Reached The Top Of Mt. Everest]

Proposes:

6Summits – 6 Continents

Mt. Vinson – 4820 m – Antarctica’s highest peak

Mt. Cook – 3754 m – Oceania’s highest peak

Mt. Kilimanjaro – 5895 m – Africa’s highest peak

Mt. Mt. Kinley – 6194 m – North America’s highest peak

Mt. Elbrus – 5643 m – Europe’s highest peak

Mt. Cartens- Indonesian highest peak

INTRODUCTION: My team and I are planning expeditions to Mt. Vinson (Antarctica), Mt. Cook (New Zealand), Mt. Kilimanjaro (Tanzania), Mt. Kinley (Alaska) & Mt. Elbrus (Russia), out of the experiences and successes of the following ones :

1.        Mt. Annapurna IV (7535 m – Himalaya) in 1990

2.        Mt. Aconcagua (6959 m – Andes) in 1993

3.        Mt. Everest – South Side Route (8848 m – Himalaya) in 1994,Mt.Cartens,Irian Jaya Indonesia 1994

4.        Mt. Kalapatar (5669 m – Himalaya) in 1996, Mt. Cartens, Irian Jaya, Indonesia,1996

5.        Mt. Everest –North Side Route in 1996

Our “6Summits – 6 Continents” expedition will take place from May 2004 until April 2005 during the climbing season, and we therefore welcome any help and support in any moral or material ways.

A climbing achievement is not only rare and difficult, it is also time consuming. Success or failure can happen, like in any other sport, but one difference is the death risk in climbing activities is high.

By the way, Indonesian achievement in climbing activities is low, compared to other countries, and one might ask whether Indonesians are able to reach the highest peaks in the world. This is the reason why I have decided to attempt reaching the summits of 5 of the 7 mythic peaks, which should be my sixth expedition.

The first one was achieved in Oct-Dec 1990 actually, when the “Putri Patria” expedition saw the first ever women team reaching the summit of Mt. Annapurna IV. The second expedition was to reach the summit of Mt. Aconcagua in Dec-Jan 1992-3. the third and fourth ones were my first two attempts to reach the summit of Mt. Everest (south-face route in Nepal – 1994). The third attempt (the fifth expedition) to reach the top of the world was eventually successful, via the north-face route (Tibet) in Jul-Oct 1996.

My past experience of climbing achievement has therefore made me mentally strong & wise enough to aim at proceeding with a sixth expedition. And beside the physical aspects of it, I am willing to take advantage of this huge trip to share my experience with climbers from other countries, as well  as to meet with Indonesian students abroad. 

May God bless & help us for the success of this expedition.

Thank you very much for your attention.

Clara Sumarwati.

Expedition Leader

World’s highest peaks await Clara

Friday August 16, 2002

Sri Wahyuni, The Jakarta Post, Yogyakarta

Clara Sumarwati, 35, never dreamed of becoming a mountain climber as a child. She would be scared to climb a short tree at her home.

But mountaineering became her greatest passion as she grew up. In 1996, she became the first woman in Southeast Asia to set foot an the peak of 8.848-meter-high Mt. Everest. Her name is recorded as the fourth Asian woman and the 39th woman in the world to have conquered Mt. Everest. The achievement won her the Nararya Star award from the Indonesian government in 1996.

“I think I’m still the obky ASEAN woman ever to have reached the peak of Mt. Everest,“ Clara told The Jakarta Post while doing exercise at Kirana Health Club, Radisson Yogya Plaza Hotel.

Currently, Clara is preparing for a solo climbing expedition to four of the world’s highestt peaks : Mt. McKinley (or Mt. Denali, as locals call it) in Alaska, Kilimanjaro in South Africa, Mt. Cook in New Zealand, Mt. Elbrus in Russia, and go on expedition to Antarctica.

“If I have the found, I would also like to continue the expedition to Mt. Makalu in Nepal and Mt. Monterosa in Switzerland,” said Clara.

As part of the preparation, she plans to leave for the U. S. in October this year, or between April 2003 and May 2003, depending on the weather there. “I will take with me three Nepal guides for the expedition. I like the Nepalese because they do more than just lead the way: They also help carry the equipment, thus lessening the burden,” she said.

Clara will drop by in Massachusetts to shop for equipment and join a month-long practice at the American Alpine Institute as part of her final preparations, before starting the Rp. 1.5 billion (about US$ 165.000) expedition.

She started preparing early this year under the supervision of fitness consultant Joko Pekik of Yogyakarta State University sport school. A comprehensive program has been prepared for Clara to train partly in Yogyakarta and mostly in Jakarta.

The preparation program includes a three-time-a-week slow continuous run for some 10 minutes to 15 minutes; twice-a-week fitness and aerobic exercises, a once-a-month high altitude exercise in Gunung Gede Pangrango, West Java, a once-a-month rock-climbing exercise in Citatah (also West Java), and a strict low-fat diet.

Clara is required to undergo high-altitude testing at Lakespra Saryanto space institution, Jakarta, every three month and another test or her maximum oxygen capacity at the Ministry of National Education in Jakarta, also once every three months.

“Rihorous preparation is vital for the expedition. Lack of preparation could result in failure,” said Clara.

Born in Yogyakarta in July on 8, 1967, the sixth daughter of the eight siblings of Marcus Mariun and Ana Suwarti, Clara’s child hood dream was to become a legal expert. But she could not say no when her elder brother enrolled her to study eeducational psychology at Atmajaya University in Jakarta.

“Then I had wanted to become a guidance and counseling teacher at high school,” she said.

But destiny took another turn. After finishing her university studies in 1990, she joined in expedition to Nepal to conquer the peak of Annapurna IV 7,525 meters above sea level.

Luck was not aon her side. She had to stop at Camp 2 (at 7.000 meters above sea level) because the oxygen that the team carried was insufficient to continue the journey.

Her climbing spirits were high after she succeeded in conquering Aconcagua in Chile.

Her second attempt on Mt. Everest ended in failure in 1994 due to bad weather on the southern route (the South Col). She made another attempt in 1996, this time taking the North Col, where she sustained minor frostbite in one hand. She made it.

“When I realized I’d been frostbitten, I quickly took of the glove, which I later found out had a leak, and put my hand in my armpit before putting on a dry substitute glove,” Clara recalled.

Her passion for mountaineering grew out of her for mountaineering grew out of her curiosity about why most climbers failed to reach the world’s highest peak.

“I found out later that it was mostly due to their lack of preparation and patience,” Clara said. The lack of preparation makes the climber vulnerable to “mountain sickness”.

“Patience, too, determines the climber’s success. Sometimes, a climber lack the patience to wait for good weather to continue the expedition. If he insists on going ahead in bad weather, he will likely fail,” said Clara.

She has also planned to join the Asian women’s team comprising women mountain climbers from Indonesia, Japan, India, Nepal, Malaysia and Thailand, for another expedition to Mt. Everest via the South Col route, which Clara failed to complete in 1994.

“I want to make up for my failure in 1994,” said Clara, who is also planning to establish the Indonesian Mountaineering Association with in two years.

THE EXPEDITION IN BRIEF

Name                      “6Summit –6Continents” – Marathon Solo Climbing Putri Indonesia.

Date                        May2004 – April 2005

Location                   Mt. Cartens – Indonesia

                                Mt. Cook – New Zealand

                                Mt. Kilimanjaro – Tanzania

                                Mt. Kinley – Alaska

                                Mt. Elbrus – Russia

Goals                  Promoting Indonesia through Mountain Climbing

                         Improving Indonesia’s international image

                         Improving creativity and achievement in mountain climbing

                         Improving snow-climbing experience and knowledge

                         Improving & promoting mountain climbing in Indonesia

                         Improving & promoting Indonesia’s tourism industry through comparative studies

                          Improving & promoting Indonesia women’s condition, through achievements in climbing & sport

THE DIFFERENT STEPS

Preparation; At this stage, the expedition team needs both to train, gather funds and make the first expenses. We already have a basic capital for these first expenses, which is managed according to our top-priority needs.

Training needs also to be well managed, because such an expedition is unique. Everything is thought carefully, as we are conscious that the image of Indonesia is at stake. Actually, the success of our expedition depends on a good planning & preparation.

To reach the 5 summits, we will have to walk through snow and ice field, climb 600 angle slopes, which will need the use to ropes for safety reason. The normal route will be however chosen, as followed by the most experienced western climbers. This doesn’t mean this will be risk-free, since avalanches, snow storms, very low temperature and thick blinding fog will accompany us at every moment. Inaccurate timing, insufficient physical and mental preparation are therefore not welcome.

This huge expedition will be aired by all major Indonesian TV channel and daily diaries will be prepared by the team-member in charge of communication. And as this expedition is one of the most sought after and arduous adventures, we will take advantage of it for helping different fields. We will first collect data, in order to help science in health development matters, such as resistance to altitude sickness. Psychological aspect will be studied too : mental behaviors in facing obstacles, for instance. This research will be done by a specialist in cooperation with KONI, the Indonesian National Sport Institute. All data will be collected and studied in Jakarta. The result will later go public.

One of our other goals is also to promote tourism in Indonesia as well as Indonesia culture & product. We will cooperate with the Indonesian Directorate of Tourism in this matter and we plan to organize different cultural events in every visited country.

On January 2005, we will then land at Soekarno-Hatta International airport, where we should be welcome by a huge crowd and the Media’s. a live TV interview is also planed, and by August we should be able to disclose a full report to state officials first, and also meet with different youth organization Not to mention all the publications in various magazines and newspapers.

The expedition: The expedition team consist of 7 persons who will first leave for France for technical upgrading courses. Up-to-date knowledge on snow & ice climbing activities will for sure be necessary, actually. However, all of us have considered the risks of such an expedition, based on our past experiences.

Sourced from: Detik.com and other links

Advertisements




NATAL MENURUT HERBERT W. AMSTRONG

19 07 2009

Herbert W. Amstrong yang sangat dihormati di kalangan pejabat, pebisnis, industriawan dan ilmuwan di seluruh dunia ini adalah seorang Pastur Worldwide Church of God yang berkeduduk an di Amerika Serikat. Dia juga sebagai kepala editor majalah Kristen �Plain Truth� yang ber tiras sekitar 8 juta eksemplar tiap bulan. Majalah ini didirikan pada tahun 1934, dan beredar ke seluruh dunia. Pada tahun 1947, Amstrong mendirikan Ambassador College yang sekarang memi liki dua kampus besar di Pasadena California dan di Big Sandy Texas. Juga mendirikan dan seba gai kepala Ambassador International Cultural Foundation, yang bergerak di bidang kebudayaan, bantuan pada masyarakat miskin, dan gerakan kemanusiaan. Dia sudah mengunjungi sekitar 70 negara untuk memberitakan Injil sebagai Kerajaan Tuhan. Bahkan Amstrong mendapatkan kehor matan dari kepala negara yang memiliki perbedaan keyakinan dengannya seperti di Jepang, India, Afrika Selatan, China, Israel dan Mesir. Pada usianya yang sudah mencapai 90 tahun, Amstrong masih aktif menulis, ceramah di televisi dan di depan publik. Di antara buku hasil tulisannya ada lah: The Wonderful World Tomorrow, What it Will be Like dan The United State and Britain in Prophecy. KENANGAN NATAL DI MASA KECILKU Ketika saya masih kecil, di saat malam Natal, saya biasa diajari dan disuruh menggantungkan kaos kaki di dinding dekat ruangan perapian. Esok harinya, kaos kaki tersebut penuh dengan hadiah-hadiah berupa mainan atau kotak makanan kesenangan saya. Selain hadiah tersebut, juga terdapat sebatang pohon Natal yang dihiasi bunga-bunga kertas berwarna perak dan emas. Di pohon ini pula, aneka rupa hadiah untuk anak-anak bergelantungan di dahannya dan berserakan di bawahnya. Menurut para orang tua, semua hadiah Natal itu dibawa oleh Sinterklas atau Santa Clause yang telah datang di malam hari, melalui cerobong asap perapian. Seperti anak-anak lainnya, semua cerita itu saya telah begitu saja dengan penuh keyakinan. Tentu anda pun demikian. Sebab kita dilahirkan dan dibesarkan di lingkungan kehidupan yang penuh dengan adat kebiasaan yang harus kita �terima, tanpa bertanya-tanya, yang dapat menimbulkan suasana yang tidak menyenangkan. Mengapa kita bersikap demikian? Instink hewanikah, sehingga kita ikut-ikutan dengan apa saja yang dilakukan oleh kebanyakan orang? Kambing memang akan tetap mengikuti kelompoknya, walaupun digiring untuk � dipotong sekalipun. Tetapi sebagai manusia, seharusnya bersikap kritis dengan menggunakan akal sehat. Sebagai orang Kristen yang baik, kita tidak pernah menyelidiki, mengapa kita melaku kan semua itu dan mengapa semua orang percaya bahwa yang mereka kerjakan itu benar. Seharus nya, sebagai umat Kristen yang ingin melaksanakan ajaran-ajaran Tuhan, kita harus bertanya, apakah upacara natal itu benar-benar ajaran Kristen? Apakah cara-cara merayakan Natal itu tidak mengajarkan kebohongan kepada masyarakat, yang merupakan � larangan Tuhan? Adakah firman Tuhan yang Hidup maupun firman tertulisNya yang memerintahkan kita untuk melakukannya? Apakah Yesus dan para Rasul juga melakukan seperti apa yang kita meriahkan selama ini? Apakah kebiasaan tukar-menukar hadiah Natal dengan teman dan kerabat dekat, juga betul-betul mengikuti ajaran Tuhan di dalam Bibel? Dan seterusnya � dan seterusnya � Hampir semua orang berpendapat dan mengira bahwa semua upacara dan kebiasaan itu berasal dari ajaran Gereja. Tetapi betulkan semua pendapat dan perkiraan itu? Mudah-mudahan fakta yang saya tulis dalam buku ini dapat meluruskan semua pendapat yang dapat menyesatkan dan merusak ajaran Tuhan yang sebenar-benarnya. Mungkin tulisan saya yang berdasarkan pada kenyataan ini akan mengejutkan orang Kristen, termasuk anda sendiri. SEJARAH NATAL Kata Christmas (Natal) yang artinya Mass of Christ atau disingkat Christ-Mass, diartikan sebagai hari untuk merayakan kelahiran �Yesus�. Perayaan yang diselenggarakan oleh non-Kristen dan semua orang Kristen ini berasal dari ajaran Gereja Kristen Katolik Roma. Tetapi, dari manakah mereka mendapatkan ajaran itu? Sebab Natal itu bukan ajaran Bible (Alkitab), dan Yesus pun tidak pernah memerintah para muridnya untuk menyeleng garakannya. Perayaan yang masuk dalam ajaran Kristen Katolik Roma pada abad ke empat ini adalah berasal dari upacara adat masyarakat penyembah berhala. Karena perayaan Natal yang diselenggarakan di seluruh dunia ini berasal dari Katolik Roma, dan tidak memiliki dasar dari kitab suci, maka marilah kita dengarkan penjelasan dari Katolik Roma dalam Catholic Encyclopedia, edisi 1911, dengan judul �Christmas�, anda akan menemukan kalimat yang berbunyi sebagai berikut: �Christmas was not among the earliest festivals of Church � the first evidence of the feast is from Egypt. Pagan customs centering around the January calends gravitated to christmas.� �Natal bukanlah diantara upacara-upacara awal Gereja � bukti awal menunjukkan bahwa pesta tersebut berasal dari Mesir. Perayaan ini diselenggarakan oleh para penyembah berhala dan jatuh pada bulan Januari ini, kemudian dijadikan hari kelahiran Yesus.� Dalam Ensiklopedi itu pula, dengan judul �Natal Day,� Bapak Katolik pertama, mengakui bahwa: �In the Scriptures, no one is recorded to have kept a feast or held a great banquet on his birthday. It is only sinners (like Paraoh and Herod) who make great rejoicings over the day in which they were born into this world.� �Di dalam kitab suci, tidak seorang pun yang mengadakan upacara atau menyelenggarakan perayaan untuk merayakan hari kelahiran Yesus. Hanyalah orang-orang kafir saja (seperti Firaun dan Herodes) yang berpesta pora merayakan hari kelahirannya ke dunia ini.� Encyclopedia Britannica, yang terbit tahun 1946, menjelaskan sebagai berikut: �Christmas was not among the earliest festivals of the church� It was not instituted by Christ or the apostles, or by Bible authority. It was picked up of afterward from paganism.� �Natal bukanlah upacar – upacara awal gereja. Yesus Kristus atau para muridnya tidak pernah menyelenggarakannya, dan Bible (Alkitab) juga tidak pernah menganjurkannya. Upacara ini diambil oleh gereja dari kepercayaan kafir penyembah berhala.� Encyclopedia Americana terbitan tahun 1944 juga menyatakan sebagai berikut: �Christmas�It was, according to many authorities, not celebrated in the first centuries of the Christian church, as the Christian usage in general was to celebrate the death of remarkable persons rather than their birth�� (The �Communion,� which is instituted by New Testament Bible authority, is a memorial of the death of Christ.) ��A feast was established in memory of this event (Christ�s birth) in the fourth century. In the fifth century the Western Church ordered it to be celebrated forever on the day of the old Roman feast of the birth of Sol, as no certain knowledge of the day of Christ�s birth existed.� �Menurut para ahli, pada abad-abad permulaan, Natal tidak pernah dirayakan oleh umat Kristen. Pada umumnya, umat Kristen hanya merayakan hari kematian orang-orang terkemuka saja, dan tidak pernah merayakan hari kelahiran orang tersebut..� (�Perjamuan Suci� yang termaktub dalam Kitab Perjanjian Baru, hanyalah untuk mengenang kematian Yesus Kristus.) ��Perayaan Natal yang dianggap sebagai hari kelahiran Yesus, mulai diresmikan pada abad keempat Masehi. Pada abad kelima, Gereja Barat memerintahkan kepada umat Kristen untuk merayakan hari kelahiran Yesus, yang diambil dari hari pesta bangsa Roma yang merayakan hari �Kelahiran Dewa Matahari.� Sebab tidak seorang pun yang mengetahui hari kelahiran Yesus.� Sekarang perhatikan! Fakta sejarah telah membeberkan kepada kita bahwa mulai lahirnya gereja Kristen pertama sampai dua ratus atau tiga ratus tahun kemudian � jarak waktu yang lebih lama dari umur negara Amerika Serikat � upacara Natal tidak pernah dilakukan oleh umat Kristen. Baru setelah abad keempat, perayaan ini mulai diselenggarakan oleh orang-orang Barat, Roma dan Gereja. Menjelang abad kelima, Gereja Roma memerintahkan untuk merayakannya sebagai hari raya umat Kristen yang resmi. YESUS TIDAK LAHIR PADA 25 DESEMBER Sungguh amat mustahil jika Yesus dilahirkan pada musim dingin! (Di wilayah Yudea, setiap bulan Desember adalah musim salju dan hawanya sangat dingin) Sebab Injil Lukas 2:11 menceri takan suasana di saat kelahiran Yesus sebagai berikut: �Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam. Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan di dekat mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka dan mereka sangat ketakutan.. Lalu kata malaikat itu kepada mereka: “Jangan takut, sebab sesungguh nya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagi mu Juruselamat, yaitu Kristus, di kota Daud.� Tidak mungkin para penggembala ternak itu berada di padang Yudea pada bulan Desember. Biasanya mereka melepas ternak ke padang dan lereng-lereng gunung. Paling lambat tanggal 15 Oktober, ternak tersebut sudah dimasukkan ke kandangnya untuk menghindari hujan dan hawa dingin yang menggigil. Bibel sendiri dalam Perjanjian Lama, kita Kidung Agung 2: dan Ezra 10:9, 13 menjelaskan bahwa bila musim dingin tiba, tidak mungkin pada gembala dan ternaknya berada di padang terbuka di malam hari. Adam Clarke mengatakan:�It was an ancient custom among Jews of those days to send out their sheep to the field and desert about the Passover (early spring), and bring them home at commencement of the first rain.� (Adam Clarke Commentary, Vol.5, page 370, New York). �Adalah kebiasaan lama bagi orang-orang Yahudi untuk menggiring domba-domba mereka ke padang menjelang Paskah (yang jatuh awal musim semi), dan membawanya pulang pada permula an hujan pertama).� Adam Clarke melanjutkan: �During the time they were out, the sepherds watch them night and day. As�the first rain began early in the month of Marchesvan, which answers to part of our October and November (begins sometime in october), we find that the sheep were kept out in the open country during the whole summer. And, as these sepherds had not yet brought home their flocks, it is a presumptive argument that october had not yet commenced, and that, consequently, our Lord was not born on the 25th of December, when no flock were out in the fields; nor could He have been born later than September, as the flocks were still in the fields by night. On this very ground, the Nativity in December should be given up. The feeding of the flocks by night in the fields is a chronological fact�See the quotation from the Talmudists in Lightfoot.� �Selama domba-domba berada di luar, para penggembala mengawasinya siang dan malam. Bila�hujan pertama mulai turun pada bulan Marchesvan, atau antara bulan Oktober dan November, ternak-ternak itu mulai dimasukkan ke kandangnya. Kita pun mengetahui bahwa domba-domba itu dilepas di padang terbuka selama musim panas. Karena para penggembala belum membawa pulang domba-dombanya, berarti bulan Oktober belum tiba. Dengan demikian dapatlah diambil kesimpulan bahwa Yesus tidak lahir pada tanggal 25 Desember, ketika tidak ada domba-domba berkeliaran di padang terbuka di malam hari. Juga tidak mungkin dia lahir setelah bulan September, karena di bulan inilah dombadomba masih berada di padang waktu malam. Dari berbagai bukti inilah, kemungkinan lahir di bulan Desember itu harus disingkirkan. Memberi makan ternak di malam hari, adalah fakta sejarah�sebagaimana yang diungkapkan oleh Talmud (kitab suci Yahudi) dalam bab �Ringan Kaki�. Di ensiklopedi mana pun atau juga di kitab suci Kristen sendiri akan mengatakan kepada kita bahwa Yesus tidak lahir pada tanggal 25 Desember. Catholic Encyclopedia sendiri secara tegas dan terang-terangan mengakui fakta ini. Tidak seorang pun yang mengetahui, kapan hari kelahir an Yesus yang sebenarnya. Jika kita meneliti dari bukti-bukti sejarah dan kitab suci Kristen sendiri, saya bisa mengambil kesimpulan bahwa Yesus lahir pada awal musim gugur � yang diperkirakan jatuh pada bulan September � atau sekitar 6 bulan setelah hari Paskah. Jika Tuhan menghendaki kita untuk mengingat-ingat dan merayakan hari kelahiran Yesus, niscaya dia tidak akan menyembunyikan hari kelahirannya. PROSES NATAL MASUK KE GEREJA New Schaff-Herzog Encyclopedia of Religious Knowledge dalam artikelnya yang berjudul �Christmas� menguraikan dengan jelas sebagai berikut: �How much the date of the festival depended upon the pagan Brumalia (Dec.25) following the Saturnalia (Dec.17-24), and celebrating the shortest day of the year and the �new sun�� can not be accurately determined. The pagan Saturnalia and Brumalia were too deeply entrenched in popular custom to be set aside by Christian influence�The pagan festival with its riot and merrymaking was so popular that Christians were glad of an excuse to continue its celebration with little change in spirit and in manner. Christian preachers of the West and the Near East protested against the unseemly frivolity with which Christ�s birthday was celebrated, while Christians of Mesopotamia accused their Western brethren of idolatry and sun worship for adopting as Christian this pagan festival.� �Sungguh banyak tanggal perayaan yang terkait pada kepercayaan kafir Brumalia (25 Desember) sebagai kelanjutan dari perayaan Saturnalia (17-24 Desember), dan perayaan menjelang akhir tahun, serta festival menyambut kelahiran matahari baru. Adat kepercayaan Pagan Brumalia dan Saturnalia yang sudah sangat populer di masyarakat itu diambil Kristen�Perayaan ini dilestari kan oleh Kristen dengan sedikit mengubah jiwa dan tata caranya. Para pendeta Kristen di Barat dan di Timur Dekat menentang perayaan kelahiran Yesus Kristus yang meniru agama berhala ini. Di samping itu Kristen Mesopatamia menuding Kristen Barat telah mengadopsi model penyem bahan kepada dewa Matahari.� Perlu diingat! Menjelang abad pertama sampai pada abad keempat Masehi, dunia dikuasai oleh imperium Romawi yang paganis politeisme. Sejak agama Kristen masih kecil sampai berkembang pesat, para pemeluknya dikejar-kejar dan disiksa oleh penguasa Romawi. Setelah Konstantin naik tahta menjadi kaisar, kemudian memeluk agama Kristen pada abad ke-4 M. dan menempatkan agama sejajar dengan agama kafir Roma, banyak rakyat yang berbondong-bondong memeluk agama Kristen. Tetapi karena mereka sudah terbiasa merayakan hari kelahiran dewa-dewanya pada tanggal 25 Desember, mengakibatkan adat tersebut sulit dihilangkan. Perayaan ini adalah pesta-pora dengan penuh kemeriahan, dan sangat disenangi oleh rakyat. Mereka tidak ingin kehilangan hari kegembiraan seperti itu. Oleh karena itu, meskipun sudah memeluk agama Kristen, mereka tetap melestarikan upacara adat itu. Di dalam artikel yang sama, New Schaff-Herzog Encyclopedia of Religious Knowledge menjelaskan bagaimana kaisar Konstantin tetap meraya kan hari �Sunday� sebagai hari kelahiran Dewa Matahari. (Sun = Matahari, Day = Hari � dalam bahasa Indonesia disebut hari Minggu — pen.) Dan bagaimana pengaruh kepercayaan kafir Manichaeisme yang menyamakan Anak Tuhan (Yesus) identik dengan Matahari, yang kemudian pada abad ke-4 Masehi kepercayaan itu masuk dalam agama Kristen. Sehingga perayaan hari kelahiran Sun-god (Dewa Matahari) yang jatuh pada tanggal 25 Desember, diresmikan menjadi hari kelahiran Son of God (Anak Tuhan � Yesus). Demikianlah asal usul �Christmas � Natal� yang dilestarikan oleh dunia Barat sampai sekarang. Walaupun namanya diubah menjadi selain Sun-day, Son of God, Christmas dan Natal, pada hakikatnya sama dengan merayakan hari kelahiran dewa Matahari. Sebagai contoh, kita bisa saja menamakan kelinci itu dengan nama singa, tetapi bagaimanapun juga fisiknya tetap kelinci. Marilah kita kembali membaca Encyclopaedia Britannica yang mengatakan sebagai berikut: �Certain Latins, as early as 354, may have transferred the birthday from January 6th to December, which was then a Mithraic feas � or birthday of the unconquered SUN � The Syrians and Armenians, who clung to January 6th, accused the Romans of sun worship and idolatry, contending� that the feast of December 25th, had been invented by disciples of Cerinthus�� �Kemungkinan besar bangsa Latin/Roma sejak tahun 354 M. telah mengganti hari kelahiran dewa Matahari dari tanggal 6 Januari ke 25 Desember, yang merupakan hari kelahiran Anak dewa Mitra atau kelahiran dewa Matahari yang tak terkalahkan. Tindakan ini mengakibatkan orang-orang Kristen Syiria dan Armenia marahmarah. Karena sudah terbiasa merayakan hari kelahiran Yesus pada tanggal 6 Januari, mereka mengecam bahwa perayaan tanggal 25 Desember itu adalah hari kelahiran Dewa Matahari yang dipercayai oleh bangsa Romawi. Penyusupan ajaran ini ke dalam agama Kristen, dilakukan oleh Cerinthus�� Kita mewarisi Natal berasal dari Gereja Katolik Roma, dan gereja itu mendapatkannya dari kepercayaan pagan (kafir) Politeisme, lalu dari manakah agama kafir itu mendapatkan ajaran itu? Dimana, kapan, dan bagaimana bentuk asli ajaran itu? Bila kita telusuri mulai dari ayat-ayat Bible (Alkitab) sampai pada sejarah kepercayaan bangsa Babilonia kuno, niscaya akan ditemukan bahwa ajaran itu berasal dari kepercayaan berhala yang dianut oleh masyarakat Babilonia di bawah raja Nimrod (Namrud � di masa inilah nabi Ibrahim lahir). Jelasnya, akar kepercayaan ini tumbuh setelah terjadi banjir besar di masa nabi Nuh. Nimrod, cucu Ham, anak nabi Nuh, adalah pendiri sistem kehidupan masyarakat Babilonia. Sejak itulah terdapat dasar-dasar pemerintahan dan negara, dan sistem ekonomi dengan cara bersaing untuk meraih keuntungan. Nimrod inilah mendirikan menara Babel, membangun kota Babilonia, Nineweh dan kota-kota lainnya. Dia pula yang pertama membangun kerajan di dunia. Nama �Nimrod� dalam bahasa Hebrew (Ibrani) berasal dari kata �Marad� yang artinya �dia membangkang atau murtad� (Karena bahasa Ibrani serumpun dengan bahasa Arab, silahkan anda membandingkan kata �Marad� dengan kata Arab �Ridda� atau �murtad�. Pen) Dari catatan-catatan kuno, kita mengetahui perjalanan Nimrod ini, yang mengawali pemurtadan terhadap Tuhan dan menjadi biang manusia pembangkang di dunia sampai saat ini. Jumlah kejahatannya amat banyak, diantaranya, dia mengawini ibu kandungnya sendiri yang bernama Semiramis. Setelah Nimrod meninggal dunia, ibu yang merangkap sebagai istri tersebut menyebarkan ajaran bahwa Roh Nimrod tetap hidup selamanya, walaupun jasadnya telah mati. Dia membuktikan ajarannya dengan adanya pohon Evergreen yang tumbuh dari sebatang kayu yang mati, yang ditafsirkan oleh Semiramis sebagai bukti kehidupan baru bagi Nimrod yang sudah mati. Untuk mengenang hari kelahirannya, Nimrod selalu hadir di pohon evergreen ini dan meninggalkan bingkisan yang digantungkan di ranting-ranting pohon itu. 25 Desember itulah hari kelahiran Nimrod. Dan inilah asal usul pohon Natal. Melalui pengaruh dan pemujaannya kepada Nimrod, Semiramis dianggap sebagai �Ratu Langit� oleh rakyat Babilonia. Dengan berbagai julukan,akhirnya Nimrod dipuja sebagai �Anak Suci dari Sorga�. Melalui perjalanan sejarah dan pergantian generasi dari masa ke masa, dari satu bangsa ke bangsa lainnya, penyembahan berhala versi Babilonia ini berubah menjadi Mesiah Palsu yang berupa dewa Baal, anak dewa Matahari. Dalam sistem kepercayaan Babilonia ini, �Ibu dan anak� (Semiramis dan Nimrod yang lahir kembali) menjadi obyek penyembahan. Ajaran penyembahan kepada ibu dan anak ini menyebar luas sampai di luar Babilonia dengan bentuk dan nama yang berbeda-beda, sesuai dengan bahasa negara-negara yang ditempatinya. Di Mesir dewa-dewi itu bernama Isis dan Osiris. Di Asia bernama Cybele dan Deoius. Dalam agama Pagan Roma disebut Fortuna dan Yupiter. Bahkan di Yunani, China, Jepang, Tibet bisa ditemukan adat pemujaan terhadap dewi Madonna, jauh sebelum Yesus lahir! Sampai pada abad ke-4 dan ke-5 Masehi, ketika dunia pagan (penyembah banyak dewa) Romawi menerima agama baru yang disebut �Kristen,� dengan membawa adat dan kepercayaan pagan mereka yang lama. Akibatnya kepercayaan kepada Dewi Madonna, Ibu dan Anak juga menjadi populer, terutama di waktu hari Natal. Di setiap musim Natal kita selalu mendengar lagu-lagu atau hymne: �Silent Night� atau �Holy Night� yang sangat akrab dengan tema pemujaan terhadap Ibu dan Anak. Kita yang sejak lahir diwarnai oleh alam budaya Babilonia, telah diajarkan untuk mengagungkan dan memuliakan semua tradisi yang berasal dari jaman jahiliyah kuno itu. Kita tidak pernah bertanya untuk mengetahui dari manakah asal usul adat seperti itu � Apakah ia berasal dari ajaran Bible (Alkitab), ataukah ia berasal dari kepercayaan penyembah berhala yang sesat? Kita terperangah seakan-akan tidak mau menerima kebenaran ini, karena seluruh dunia terlanjur telah melakukannya. Lebih aneh lagi, sebagian besar meremehkan dan mencemooh kebenaran ini. Namun Tuhan telah berfirman kepada para utusannya yang setia: �Katakan dengan lantang, dan jangan menghiraukan penghinaan mereka! Kumandangkan suaramu seperti terompet! Dan tunjukkan di depan umatKu tentang kesesatan mereka!� Memang kenyataan ini sungguh sangat mengejutkan bagi mereka, meskipun ini adalah fakta sejarah dan berdasarkan kebenaran dari Bibel (Alkitab). Natal adalah acara ritual yang berasal dari masa Babilonia kuno yang belum mengenal agama yang benar. Tradisi ini diwariskan puluhan abad yang lampau sampai kepada kita. Di Mesir, ia dipercayai bahwa Dewi Isis (Dewi Langit) melahirkan anaknya yang tunggal pada tanggal 25 Desember. Hampir semua orang-orang penyembah berhala (paganis) di dunia waktu itu, merayakan ulang tahun (Natal) anak dewi Isis ini jauh sebelum kelahiran Yesus. Dengan demikian, sudah jelas bagi kita bahwa 25 Desember itu bukanlah hari kelahiran Yesus Kristus. Para murid Yesus dan orang-orang Kristen abad pertama tidak pernah menyelenggarakan Natal, meskipun hanya sekali. Tidak ada ajaran atau pun perintah perayaan Natal di dalam Bibel. Sekali lagi, perayaan Natal atau Christmas itu adalah ulang tahun anak dewa yang dianut oleh para paganis, dan bukan dari ajaran Kristen. Percaya atau tidak, terserah anda! Upacara ini berasal dari cara-cara pemujaan yang dikenal dengan�Chaldean Mysteries� (Misteri Kaldea) berasal dari ajaran Semiramis, isteri Nimrod. Kemudian adat ini dilestarikan oleh para penyembah berhala secara turuntemurun hingga sekarang dengan wajah baru yang disebut Kristen. ASAL MULA POHON NATAL Sekarang dari manakah kita mendapatkan kebiasaan memasang pohon Natal itu? Di antara para penganut agama Pagan kuno, pohon itu disebut �Mistletoe� yang dipakai pada saat perayaan musim panas, karena mereka harus memberikan persembahan suci kepada matahari, yang telah memberikan mukjizat penyembuhan. Kebiasaan berciuman di bawah pohon itu merupakan awal acara di malam hari, yang dilanjutkan dengan pesta makan dan minum sepuas-puasnya, sebagai perayaan yang diselenggarakan untuk memperingati kematian �Matahari Tua� dan kelahiran �Matahari Baru� di musim panas. Rangkaian bunga suci yang disebut �Holly Berries� juga dipersembahkan kepada dewa Matahari. Sedangkan batang pohon Yule dianggap sebagai wujud dari dewa matahari. Begitu pula menyalakan lilin yang terdapat dalam upayara Kristen hanyalah kelanjutan dari kebiasaan kafir, sebagai tanda penghormatan terhadap dewa matahari yang bergeser menempati angkasa sebelah selatan. Encyclopedia Americana menjelaskan sebagai berikut: �The Holly, the Mistletoe, the Yule log �are relics of pre-Christian times.� �Rangkaian bunga Holly, pohon Mistletoe dan batang pohon Yule�yang dipakai sebagai penghias malam Natal adalah warisan dari zaman sebelum Kristen.� Sedangkan buku Answer to Question yang ditulis oleh Frederick J. Haskins menyebutkan bahwa: �The use of Christmas wreath is believed by authorities to be traceable to the pagan customs of decorating buildings and places of worship at the feast which took place at the same time as Christmas. The Christmas tree is from Egypt, and its origin date from a period long anterior to the Christian Era.� �Hiasan yang dipakai pada upacara Natal adalah warisan dari adat agama penyembah berhala (paganisme), yang menghiasi rumah dan tempat peribadatan mereka yang waktunya bertepatan dengan malam Natal sekarang. Sedangkan pohon Natal berasal dari kebiasaan Mesir Kuno, yang masanya lama sekali sebelum lahirnya agama Kristen.� SIAPA SANTA CLAUS/SINTERKLAS ITU? Santa Claus bukan ajaran yang berasal dari paganisme, tetapi juga bukan ajaran Kristen. Sinterklas ini adalah ciptaan seorang pastur yang bernama �Santo Nicolas� yang hidup pada abad ke empat Masehi. Hal ini dijelaskan oleh Encyclopedia Britannica, volume 19 halaman 648-649, edisi kesebelas, yang berbunyi sebagai berikut: �St. Nicholas, bishop of Myra, a saint honored by the Greek and Latins on the 6th of December� A Legent of his surreptitious bestowal of dowries on the three daughters of an improverrished citizen� is said to have originated the old custom of giving presents in secret on the Eve of St. Nicholas (Dec.6), subsequently transferred to Christmas day. Hence the association of Christmas with Santa Claus�� �St. Nicholas, adalah seorang pastur di Myra yang amat diagung-agungkan oleh orang-orang Yunani dan Latin setiap tanggal 6 Desember�Legenda ini berawal dari kebiasaannya yang suka memberikan hadiah secara sembunyisembunyi kepada tiga anak wanita miskin� untuk melestarikan kebiasaan lama dengan memberikan hadiah secara tersembunyi itu digabungkan ke dalam malam Natal. Akhirnya tarkaitlah antara hari Natal dan Santa Claus�� Sungguh merupakan kejanggalan! Orang tua menghukum anaknya yang berkata bohong. Tetapi di saat menjelang Natal, mereka membohongi anakanak dengan cerita Sinterklas yang memberikan hadiah di saat mereka tidur. Bukankah ini suatu keanehan, ketika anak-anak menginjak dewasa dan mengenal kebenaran, pasti akan beranggapan bahwa Tuhan hanyalah mitos atau dongeng belaka? Dengan cara ini tidak sedikit orang yang merasa tertipu, dan mereka pun mengatakan: �Ya, saya akan membongkar pula tentang mitos Yesus Kristus!� Inikah ajaran Kristen yang mengajarkan mitos dan kebohongan kepada anakanak? Padahal Tuhan sudah mengatakan: �Janganlah menjadi saksi palsu. Dan ada cara yang menurut manusia betul, tetapi sebenarnya itu adalah ke jalan kematian dan kesesatan.� Oleh karena itu, upacara �Si Santa Tua� itu juga merupakan Setan. Di dalam kitab suci telah dijelaskan sebagai berikut: �Hal itu tidak usah mengherankan, sebab Iblis pun menyamar sebagai malaikat terang. Jadi itu bukanlah hal yang ganjil, jika pelayan-pelayannya menyamar sebagai pelayan-pelayan kebenar an. Kesudahan mereka akan setimpal dengan perbuatan mereka.� (II Korintus 11:14) Dari bukti-bukti nyata yang telah kita ungkap tadi dapatlah diambil kesimpulan, bahwa perayaan Natal atau Christmas itu bukanlah ajaran Kristen yang sebenarnya, melainkan kebiasaan para penyembah berhala (Paganis).Ia warisan dari kepercayaan kuno Babilonia ribuan tahun yang lampau. Bagaimana Bibel berbicara tentang Natal, atau mencatat pandangan para murid Yesus atau bapak-bapak geraja awal. Jawabannya sungguh sangat mengejutkan bagi kalangan Kristen sendiri. Sebagaimana yang dikatakan Bibel (Alkitab) pada kitab Yeremia 10:2-4 yang berbunyi sebagai berikut: �Janganlah biasakan dirimu dengan tingkah langkah bangsa-bangsa, janganlah gentar terhadap tanda-tanda di langit, sekalipun bangsabangsa gentar terhadapnya. Sebab yang disegani bangsa-bangsa adalah kesia-siaan.� �Bukankah berhala itu pohon yang ditebang orang dari hutan, yang dikerjakan dengan pahat oleh tangan tukang kayu? Orang memperindahnya dengan emas dan perak; orang memperkuatnya dengan paku dan palu, supaya jangan goyang.� Itulah keterangan yang jelas dari Bibel tentang pohon Natal. Kita dilarang mengikuti kebiasaan bangsa-bangsa penyembah berhala. Sebab hal itu merupakan perbuatan yang sesat menyekutukan Tuhan. Pada ayat kelima dijelaskan bahwa: �Pohon itu tidak bisa berbicara, dan orang harus mengangkatnya, karena ia tidak bisa berjalan sendiri.� �Janganlah takut kepadanya, sebab ia tidak dapat berbuat jahat, juga tidak dapat berbuat baik.� Sebab mereka bukanlah dewa yang harus ditakuti. Bagi mereka yang tidak pernah membaca atau yang melupakan ayat ini, beranggapan bahwa tidak ada larangan untuk membuat pohon Natal. Tetapi jika telah membacanya, apa yang harus dikatakan? HADIAH NATAL Acara yang paling penting dari seluruh kegiatan Natal adalah �The Christmas Shopping Season � Musim Belanja Natal� yang dilakukan dengan cara membeli dan tukar menukar hadiah. Mungkin banyak orang yang mengecam kami sambil berkata: �Bukankah Bibel (Alkitab) telah menceritakan kepada kita untuk ditiru? Lupakah kita kisah 3 orang dari timur yang datang ke Betelhem untuk memberikan hadiah ketika Yesus lahir?� Memang, kami mengetahui cerita itu di dalam Alkitab. Tetapi, silahkan anda melihat keterangan kami yang mengejutkan ini. Marilah menengok sejarah asal usul tukar menukar hadiah itu, kemudian kita bandingkan dengan ayat Alkitab. Pada Bibliothica Sacra, volume 12, halaman 153-155, kita dapat membaca sebagai berikut: �The interchange of presents between friends is alike characteristic of Christmas and the Saturnalia, and must have been adopted by Christians from the Pagan, as the admonition of Tertullian plainly shows.� �Tukar menukar hadiah antar teman di hari Natal serupa dengan adat agama Saturnalia. Kemungkinan besar, kebiasaan ini diadopsi oleh orang-orang Kristen dari agama Pagan, sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang Tertulianus.� Dari bukti yang jelas ini, ternyata kebiasaan pertukaran hadian sesama teman dan famili pada hari Natal itu sama sekali tidak ada kaitannya dengan kisah dalam Alkitab tersebut. Acara Natal bukanlah merayakan ulang tahun Yesus Kristus, juga bukan untuk menghormatinya. Sebagai contoh, seorang teman yang sangat anda cintai sedang merayakan ulang tahunnya. Bila ingin membahagiakannya di hari kelahirannya itu, apakah anda membeli hadiah untuk teman yang lain? Membeli lagi dan tukar menukar hadiah dengan teman-teman dan kekasih anda, tetapi tidak memberi hadiah apa pun kepada teman yang anda cintai, yang sedang anda rayakan hari ulang tahunnya? Tidakkah disadari keganjilan seperti itu? Sebuah kenyataan yang tidak bisa dipungkiri yang selalu dilakukan oleh hampir semua orang di seluruh dunia. Mereka menghormati �sebuah hari� �yang sebenarnya bukan hari kelahiran Yesus Kristus � dengan berbelanja dan membeli hadiah sebanyak-banyaknya untuk ditukarkan kepada teman-teman dan kerabatnya. Dari pengalaman saya selama bertahun-tahun, begitu pula pengalaman para pastur dan pendeta; Apabila bulan Desember tiba, hampir semua orang yang mengaku Kristen lupa memberi hadiah kepada Yesus Kristus yang mereka cintai. Desember adalah bulan yang paling sulit untuk menghidupkan ajaran Yesus. Sebab semua orang terlalu disibukkan untuk membeli dan menukar hadiah daripada mengingat Yesus dan menghidupkan ajarannya. Peristiwa melupakan Yesus ini terus berlangsung sampai bulan Januari bahkan Pebruari. Sebabmereka harus melunasi biaya pengeluaran yang dibelanjakan pada waktu Natal. Sehingga mereka sulit mengabdi kepada Yesus kembali sebelum bulan Maret. Sekarang, perhatikan apa kata Bibel tentang tiga orang dari timur yang memberikan hadiah kepada Yesus, yang berbunyi sebagai berikut: �Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman raja Herodes, datanglah orang-orang Majus dari Timur ke Yerusalem dan bertanya-tanya: �Di manakah dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-bintang di timur dan kami datang untuk menyembah dia.� Ketika raja Herodes mendengar tentang hal itu terkejutlah ia beserta seluruh Yerusalem. Maka dikumpulkannya semua imam kepala dan ahli Taurat bangsa Yahudi, lalu dimintanya keterangan dari mereka, di mana Mesias akan dilahirkan. Mereka berkata kepadanya: �Di Betlehem di tanah Yudea, karena demikianlah ada tertulis dalam kitab nabi: Dan engkau Betlehem, tanah Yudea, engkau sekali-kali bukanlah yang terkecil di antara mereka yang memerintah Yudea, karena daripadamulah akan bangkit seorang pemimpin, yang akan menggembalakan umatKu Israel. Lalu dengan diam-diam Herodes memanggil orang-orang Majusi itu dan dengan teliti bertanya kepada mereka, bilamana bintang itu nampak. Kemudian ia menyuruh mereka ke Betlehem, katanya: �Pergi dan selidikilah dengan seksama hal-hal mengenai anak itu dan segera sesudah kamu menemukan dia, kabarkanlah kepadaku supaya aku pun datang menyembah dia.� Setelah mendengar kata-kata raja itu, berangkatlah mereka. Dan lihatlah, bintang yang mereka lihat di timur itu mendahului mereka hingga tiba dan berhenti di atas tempat, di mana anak itu berada. Ketika mereka melihat bintang itu, sangat bersukacitalah mereka. Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat anak itu bersama Maria, ibunya, lalu sujud menyembah dia. Mereka pun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepadanya, yaitu emas, kemenyan dan mur. Dan karena diperingatkan dalam mimpi, supaya jangan kembali kepada Herodes, maka pulanglah mereka ke negerinya melalui jalan lain.� Perhatikanlah dengan teliti. Ayat bibel tersebut menceritakan bahwa pada mulanya orang-orang Majus tersebut menanyakan tentang Bayi Yesus yang lahir sebagai Raja Yahudi. Lalu, mengapa mereka memberi hadiah kepadanya? Apakah karena hari kelahirannya? Jawabannya adalah �Tidak.� Sebab mereka memberi hadiah beberapa hari bahkan beberapa minggu setelah hari kelahirannya. Bisakah peristiwa ini dipakai pedoman bagi kita untuk melakukan kebiasaan memberi atau saling menukar hadiah di antara kita? Jelas tidak bisa. Sebab orang-orang Majus tersebut tidak saling menukar hadiahnya, tetapi mereka memberi hadiah kepada Yesus. Bukan tukar menukar hadiah sesama teman atau kerabatnya. Mengapa? Silahkan anda membaca buku Adam Clarke Commentary, volume 5, halaman 46 yang berbunyi sebagai berikut: �Verse 11. (They presented unto him gifts.) The people of the east never approach the presence of kings and great personages, without a present in their hands. The custom is often noticed in the Old Testament, and still prevails in the east, and in some of the newly discored South Sea Islands.� �Ayat 11. (Mereka memberi hadiah kepadanya.) Adalah kebiasaan orang-orang timur, apabila menghadap raja atau orang-orang terkemuka, mereka selalu membawa hadiah. Kebiasaan seperti ini juga tercantum dalam kitab Perjanjian Lama, dan masih berlaku di timur, juga dapat ditemuka di South Sea Islands (Kepulauan Laut Selatan).� Dari keterangan Adam Clarke ini, jelaslah bagi kita, bahwa peristiwa tersebut tidak bisa dipakai pedoman atau dikaitkan dengan kebiasaan Kristen barudengan menukar hadiah kepada temannya untuk menghormati ulang tahun Yesus. Sebaliknya, mereka mengikuti adat orang-orang timur kuno yang memberi hadiah ketika mengharap raja. Mereka mendatangi Yesus, yang lahir sebagai Raja Yahudi. Sebagaimana ratu Sheba (Balqis) membawa hadiah kepada raja Salomo (Sulaiman). Bahkan seperti sekarang ini, para tamu negara pasti membawa hadiah atau cindera mata apabila datang ke White House (Gedung Putih) untuk menemui presiden. Jadi kebiasaan menukar hadiah ini bukanlah dari ajaran Kristen, melainkan hanya merupakan pelestarian tradisi lama yang dilakukan oleh orang-orang pagan (penyembah berhala). Di saat menjelang Natal atau Christmas yang katanya untuk menghormati Kristus dan menghidupkan ajarannya, justru orang-orang Kristen bertambah set back (jauh) dari ajaran Yesus. NATAL MEMULIAKAN TUHAN? Ada dua alasan yang dipakai dasar oleh orang-orang yang menyelenggarakan Natal, sebagai cara untuk menghormati Yesus Kristus, meskipun mereka mengetahui bahwa perayaan itu warisan kepercayaan Paganisme: 1. Banyak yang mengajukan alasan: �Walaupun kita tidak mengetahui secara tepat hari kelahiran Yesus, apa salahnya kita memilih hari untuk merayakan ulang tahunnya.� Kami akan menjawab dengan pasti �Tidak bisa�. Sebab dalam Catholic Encyclopedia (Eksiklopedi Katolik) telah dijelaskan: �Sinners alone, not saints, celebrate their birthday = Hanya orang kafir, bukan orang-orang suci, yang merayakan hari ulang tahun mereka.� Perayaan ulang tahun bukan berasal dari agama Kristen, melainkan dari ajaran agama kafir. 2. Ada pula yang beralasan: �Walaupun Natal itu kebiasaan orang-orang kafir (pagan) yang menyembah dewa matahari, tetapi kita tidak menyembah dewa tersebut, melainkan untuk menghormati Yesus Kristus.� Tetapi sudahkah kita mendengarkan jawaban Tuhan melalui firmannya yang berbunyi sebagai berikut: �Maka hati-hatilah, supaya jangan engkau kena jerat dan mengikuti mereka, setelah mereka dipunahkan dari hadapanmu, dan supaya jangan engkau menanya-nanya tentang tuhan mereka dengan berkata: �Bagaimana bangsa-bangsa ini beribadah kepada tuhan mereka? Aku pun mau berlaku begitu.� Jangan engkau berbuat seperti itu terhadap Tuhanmu. Sebab segala yang menjadi kekejian bagi Tuhan, apa yang dibenciNya, itulah yang dilakukan mereka bagi tuhan mereka; bahkan anak-anaknya lelaki dan anak-anaknya perempuan dibakar mereka dengan api bagi tuhan mereka.� (Ulangan 12:30-31) Tuhan berfirman dengan jelas dalam kitab suciNya, bahwa Dia tidak mau menerima dalam bentuk penyembahan yang menyerupai atau meniru cara penyembahan orang-orang kafir kepada tuhannya. Cara penyembahan seperti itu sangat menjijikkan bagi Tuhan. BagiNya, pemujaan yang demikian itu tidak layak untukNya, melainkan hanya pantas untuk memuja berhala. Sebagaimana yang sering kita dengar, Tuhan melarang kita menyembahNya hanya dengan �menurut kata hati kita sendiri.� Yesus telah bersabda: �Allah itu Roh, dan barang siapa yang menyembah Dia, harus menyembahNya dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian.� (Yohanes 4:24) Dan apa yang dimaksud dengan kebenaran itu? Firman Tuhan atau Kitab suci Bibel itulah kebenaran. Sebagainya sabda Yesus yang berbunyi sebagai berikut: �Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; FirmanMu adalah kebenaran.� (Yohanes 17:17) Di Dalam Bibel sendiri, secara jelas Tuhan berfirman bahwa Dia tidak mau menerima penyembahan kepadaNya, dengan meniru cara penyembahan para penyembah berhala. Begitu pula cara yang dipakai untuk mengagungkan dan memuliakan Yesus Kristus. Ingatlah sekali lagi, peringatan Yesus yang berbunyi: �Percuma mereka beribadah kepadaku, sedangkan ajaran yang mereja ajarkan ialah perintah manusia.� Natal atau Christmas adalah tradisi dan ajaran manusia, sedangkan ajaran Tuhan telah melarang nya. Selanjutnya Yesus bersabda lagi: �Sungguh kamu telah menolak ajaran Tuhan, tetapi kamu mengikuti ajaran tradisimu sendiri.� Alangkah tepat firman-firman Tuhan yang dilontarkan kepada berjuta-juta orang yang melakukan Natal itu. Mereka mengabaikan ajaran Tuhan. Tuhan melarang pemujaan yang meniru adat kaum kafir penyembah berhala, tetapi dengan senang hati kita melanggarnya. Tuhan berfirman: �Janganlah kamu berbuat demikian terhadap Tuhanmu.� Ternyata hampir semua orang menganggap ringan larangan itu. Atau karenatidak memiliki dasar agama yang kuat, akhirnya mereka mengikuti tradisi kebanyakan orang-orang untuk merayakan Natal. Jangan salah! Tuhan membiarkan anda untuk berbuat semaunya dan tidak mengikuti petunjukNya. Tuhan membiarkan kita tenggelam dalam keramaian dan mengikuti tradisi orang-orang. Bahkan Dia akan membiarkan kita berlumuran dosa. Tetapi, Tuhan juga telah memerintahkan kita tentang datangnya hari perhitungan atau pembalasan. Jika kamu menanam, niscaya kamu akan memetik hasilnya. Yesus adalah firman Tuhan yang hidup, sedangkan Bibel adalah firman Tuhan yang tertulis. Dan kita akan diadili sesuai dengan ketetapan yang telah digariskan dalam firman tersebut. Kita pun tidak bisa mengelak dan mengabaikannya. TANPA DISADARI KITA KEMBALI KE MASA BABILONIA Christmas atau Natal telah menjadi musim panen para pedagang. Ia menjadi sponsor yang terus dilestarikan oleh perusahaan advertising setiap tahun. Anda selalu melihat Santa Claus yang dipajang di setiap toko. Iklan-iklan menyambut dan mengajak kita untuk merayakan �Beautiful Christmas Spirit�. Koran yang selalu menjual iklan, ikut menyemarakkan musim kaum kafir tersebut di tajuk rencananya. Orang yang mudah terbius oleh tradisi ini, akan marah bila ditunjukkan kebenaran dari Tuhan. Padahal �Christmas Spirit = Semangat Natal� yang diselenggarakan setiap tahun itu, bukanlah untuk mengangungkan Kristus, melainkan hanya untuk promosi barang-barang dagangan. Sebagaimana rayuan setan lainnya, ia dikemas sedemikian rupa sehingga tampak seperti �Malaikat Pembawa Terang� yang amat indah. Setiap tahun jutaan dolar dihabiskan begitu saja, sementara ajaran Yesus diterlantarkan. Itulah bagian dari sistem perekonomian Babilonia. Sebagaimana yang telah diramalkan oleh Bibel (Alkitab), kita merasa berada di negara Kristen, padahal kita di Babilonia, tetapi kita tidak menyadarinya. Ingatlah pesan Alkitab yang berbunyi sebagai berikut: �Pergilah kamu hai umatKu, pergilah dari padanya, supaya kamu jangan mengambil bagian dalam dosa-dosanya, dan supaya kamu jangan turut ditimpa malapetaka-malapetakanya.� (Wahyu 18:4) Oleh karena itu, di tahun ini, daripada jutaan uang tersebut dihamburhamburkan begitu saja, lebih baik dibelanjakan untuk menunjang pekerjaan Tuhan.

Terjemahan dalam bahasa Indonesia oleh Masyhud SM. dalam buku Misteri Natal.

Sumbangan: Zulvan Abdul Chair (zac@agro.lyman.co.id)





Sedikit Catatan tentang Slip Merah dan Slip Biru dalam Tilang

16 07 2009

 

Bila sedang malas, atau kebetulan bank tutup, pengendara yang kena tilang boleh membayar denda secara langsung ke petugas khusus.

Anda pernah merasa kesal karena kena tilang polisi karena motor Anda tak memiliki kaca spion? Mungkin di hari lain, mobil Anda ditilang hanya karena melewati garis batas putih di traffic light beberapa senti? Anda tidak sendirian. Bisa jadi puluhan orang tertimpa nasib yang sama setiap hari. Sayang, acapkali rasa kesal terhadap polisi muncul karena ketidaktahuan kita sendiri terhadap proses tilang yang sebenarnya. Apalagi kalau sudah bicara slip merah atau slip biru.

Kurangnya pemahaman tentang mekanisme tilang dan makna lembaran surat tilang membuat pengendara lebih sering mencari jalan pintas. Bayar…langsung tancap gas. Saat ditanya arti slip merah dan slip biru, beberapa orang pengendara yang sedang mengurus tilang di PN Jakarta Selatan hanya angkat bahu. Ketidaktahuan acapkali terjadi karena minimnya informasi. 

Lantaran itu pula, pengendara tak menghiraukan manakala polisi langsung mencatat data di atas slip merah. Padahal, selain slip warna merah, Anda sebagai pengandara berhak meminta slip berwarna biru. Pengalaman hukumonline pertengahan Juli lalu menunjukkan, memang tidak mudah mendapatkan slip biru kalau tidak diminta.  

  “Selamat malam Pak, Anda belok saat lampu telah menyala”. Kalimat itu membuarkan lamunan malam ketika waktu menunjukkan pukul 23.00 WIB lewat. Seorang petugas polisi lalu lintas minta surat-surat kendaraan. Lantaran sudah larut malam dan tak ingin urusan menjadi ribet, wartawan hukumonline mengaku salah dan minta diberikan slip biru.  

 Permintaan itu tak langsung dipenuhi. Apalagi hukumonline menanyakan bagaimana mekanisme pembayaran denda lalu lintas ke Bank Rakyat Indonesia. Polisi yang menahan memanggil polisi lain. Barulah permintaan slip biru dipenuhi.

 Tiga opsi bagi pelanggar

Menurut Direktur Lalu Lintas Mabes Polri, Kombes Pol Yudi Sushariyanto, tindakan langsung terhadap pelanggaran lalu lintas, lazim disebut tilang, adalah salah satu bentuk penindakan pelanggaran lalu lintas yang dilakukan Polri. Penyelesaian atas pelanggaran itu berada dalam sistem peradilan pidana (criminal justice system yang melibatkan kejaksaan dan pengadilan. Mengacu pada Pasal 211 KUHAP dan Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 1993, terdapat 28 jenis pelanggaran yang dapat dikenakan tilang. 

Yudi menjelaskan, sistem tilang yang berlaku saat ini memberi tiga opsi bagi pelanggar. Seseorang bisa minta disidang di pengadilan, mau bayar ke Bank Rakyat Indonesia, atau pilihan lain dititipkan kepada kuasa untuk sidang. Kuasa untuk sidang itu tidak lain adalah polisi. Pilihan-pilihan ini sudah berlangsung sama, sesuai Surat Keputusan Kepala Kapolri No.Pol: SKEP/443/IV/1998, tanggal 17 April 1998 (SK 1998).  

Dijelaskan Yudi, ketiga opsi ini dibuat dengan tujuan untuk memudahkan pengendara menyelesaikan pelanggaran yang dia lakukan. Tinggal pilih opsi yang mana, sehingga proses penindakan tidak sampai terlalu mengganggu aktivitas pelanggar. Kalau punya waktu ke pengadilan, ya monggo. Mau bayar lewat bank, silahkan.  

Gambaran lebih teknis dipaparkan oleh Loekito. Kepala Divisi Pembinaan dan Penegakan Hukum Direktorat Lalu lintas Polri ini menjelaskan Indonesia tidak menggunakan sistem tiket seperti di luar negeri secara murni. Tapi dipakai sistem penggabungan (hybrid-red) sesuai hukum acara Indonesia. Memang masyarakat diberi alternatif, “Kalau orang dikasih lembar biru, dia bisa titip uang sesuai tabel, atau bisa langsung ke BRI (Bank Rakyat Indonesia, red) di mana saja atau ke kantor pos” ujarnya.   

Apabila pelanggar memilih untuk membayar ke BRI, lanjut Loekito, polisi bisa menunjuk petugas khusus atau pelanggar bisa menyetorkan denda ke BRI cabang saja. BRI kemudian memberikan struk sebagai bukti, lalu pelanggar tinggal datang ke kantor polisi yang ditunjuk penilang. Setelah pelanggar membayar denda dan meminta kembali SIM/STNK yang dititipkannya, lembar biru tersebut dikirim ke Pengadilan Negeri untuk dilaksanakan sidang tanpa kehadiran pelanggar (verstek).  

Pertimbangan Polri untuk bekerjasama BRI ialah jangkauan yang luas hingga ke pelosok-pelosok. “Pelanggar bisa membayar ke BRI dimana saja. Nanti uang ditilang disetor ke kas negara, bukan pemerintah daerah” tutur Loekito. 

Besarnya denda ditentukan dari tabel jumlah uang tilang yang telah disepakati hakim. Jumlah denda pada tabel ini berbeda untuk tiap provinsi. Tabel yang juga dilampirkan di belakang buku tilang ini, dibuat untuk mempermudah pelanggar.  

Petugas khusus

 Selain ikut sidang dan membayar ke BRI, dengan slip biru pelanggar bisa memberi uang titipan ke petugas khusus (polisi). Dengan cara ini, menurut Loekito, pelanggar itu memberi kuasa kepada polisi untuk hadir disidang, dan perkaranya akan disidangkan secara verstek. ”Surat tilang berlaku sebagai surat kuasa juga” ujarnya. Misalnya BRI tutup, hari sudah malam atau malas orangnya, dia dapat menyetor ke petugas khusus. Kemudian petugas tersebut membayar ke BRI dan mengirimkan slipnya ke Pengadilan Negeri” tuturnya. 

Menurut Lampiran SK 1998 sebagai petunjuk teknis tentang penggunaan blanko tilang, apabila ada kepentingan mendesak terdakwa dapat menyetorkan uang titipannya ke petugas khusus yang ditunjuk (Polantas), di Kantor Satlantas setempat. Penyidik harus dapat memastikan kepada terdakwa kapan dan di mana terdakwa dapat mengambil kembali barang titipannya (SIM/STNK yang dititipkan) setelah menyerahkan uang titipan di BRI atau petugas khusus itu.    

Sambil menunjukkan slip tilang Loekito menjelaskan bahwa surat tilang dapat berkedudukan sebagai surat kuasa. Hal ini sesuai dengan kesepakatan Mahkamah Agung, Kejaksaan, dan Polisi (Mahkejapol). Ia kemudian menambahkan, Polantas yang bertugas juga tidak bisa main-main. Tidak semua polantas memegang slip tilang, tergantung siapa yang diberi blanko tilang oleh komandannya. “Kita punya sistem pertanggungjawaban dengan sidang kode etik”.  

Dalam slip tilang tersebut tercatat nomor kode polisi yang bertanggungjawab atas blanko tilang tersebut, sehingga komandan dapat menyita blanko itu. Selain itu Yudhi menambahkan, Kalau polisi bermain akan ‘dikejar’ Kejaksaan karena tembusan tilang dibuat ke Kejaksaan dan pengadilan. 

Halaman 18, Buku Petunjuk Teknis Tentang Penggunaan Blanko Tilang (Lampiran SKEP KAPOLRI Skep/443/IV/1998) e. Terdakwa:

 1.      Menandatangani Surat Tilang (Lembar Merah dan Biru) pada kolom yang telah disediakan apabila menunjuk wakil di sidang dan sanggup menyetor uang titipan di Bank yang ditunjuk. 

 2.      Menyetor uang titipan ke petugas khusus bila kantor Bank (BRI) yang ditunjuk untuk menerima penyetoran uang titipan terdakwa (pelanggar-red) tutup, karena hari raya/libur, dan sebagainya.

3.      Menyerahkan lembar tilang warna biru yang telah ditandatangani/dicap petugas kepada penyidik yang mengelola barang titipan tersebut.

4.      Menerima tanda bukti setor dari petugas khusus (Polri) apabila peneyetor uang tititpan terpaksa dilakukan diluar jam kerja Bank (BRI).

5.      Menerima penyerahan kembali barang titipannya dari penyidik/petugas barang bukti/pengirim berkas perkara berdasarkan bukti setor dari petugas khusus atau lembaran tilang warna biru yang telah disyahkan oleh petugas Bank (BRI).

6.      Menerima penyerahan barang sitaannya dari petugas barang bukti setelah selesai melaksanakan vonis hakim (dengan bukti eksekusi dari Eksekutor/Jaksa dan melengkapi kekurangan-kekurangan lainnya (SIM, STNK/kelengkapan kendaraan) à (bila memilih sidang-red)

  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dengan berlangsungnya otonomi daerah, Yudi berpendapat ada beberapa pengadilan yang meminta untuk memproses seluruh tilang lewat persidangan. Walau sebenarnya prosedurnya terdapat tiga opsi tadi. “Polda Metro Jaya

 sebenarnya prosedurnya terdapat tiga opsi tadi. “Polda Metro Jaya maunya juga petugasnya tidak menerima uang. Agar tidak ada anggota yang terima titipan” tutur Loekito.  

Ditambahkan Yudi, dengan mengharuskan orang ke untuk pengadilan maka pelanggar akan direpotkan. “Ini yang harusnya direspon masyarakat, kita maunya kecepatan dan ketepatan” tandas Yudi. “Kasihan masyarakat, karena ada pihak yang ingin tidak mempermudah. Mereka tidak mau mempercepat (proses-red) si pelanggar” tandas Yudi. Menurutnya polisi ingin menyerahkan pada keinginan masyarakat. Selain karena tiga opsi ini masih berlaku, menurut Loekito seharusnya juga ditanyakan kepada masyarakat. “Kalau mau sidang boleh, tidak juga tidak apa-apa” ujarnya. 

 Memilih opsi membayar ke BRI juga tidak gampang. Seorang anggota Polantas berujar, memilih slip biru berarti sudah tahu prosedur. Kalau tidak, ya bakal repot juga. Sebab, sebelum ke BRI, pelanggar lalu lintas harus datang ke kantor polisi dulu untuk meminta cap. Di sana, petugas Ditlantas akan menunjuk BRI tempat membayar denda tilang. “Jadi, bayarnya tidak langsung. Tidak online,” ujar polisi tadi.  

 Setelah dari BRI, pelanggar harus balik lagi ke kantor polisi untuk mengambil SIM. Meski terkesan ribet, demi pengalaman dan pengetahuan hukumonline mengikuti petunjuk teknis Pak Polisi. Tiga hari setelah ada cap dari kantor polisi, kini berurusan ke BRI Pusat di kawasan Jalan Sudirman Jakarta. Berbekal tanda bukti pembayaran denda dari bank, hukumonline meluncur ke Polda Metro Jaya. Tak sampai lima menit, Surat Izin Mengemudi (SIM) pun dikembalikan.  

Source: www.ombudsman-asahan.org





RANI JULIANI, NASRUDIN ZULKARNAIN DAN ANTASARI AZHAR

4 05 2009

rani-juliani

Rani juliani adalah anak ketiga dari pasangan Haskin Abidin dan Sarnawati yang lahir pada tanggal 01 Juli 1986. Rani mempunyai 1 kakak perempuan, 1 kakak laki-laki dan satu adik laki-laki. Di masa kecil, Rani tinggal bersama orang tuanya di Tangerang Banten dan ketika Rani menginjak usia 13 tahun, kedua orang tuanya bercerai sehingga Rani dan Adiknya memilih tinggal bersama nenek yang alamatnya tidak jauh dari rumah orang tuanya. Sementara kedua kakaknya sudah berumah tangga dan memilih tinggal di rumah yang ditinggalkan orang tuanya.

Menurut keterangan dari keluarga dekatnya, Ibu Rani Juliani pergi meninggalkan kedua anaknya setelah bercerai yang sampai kini belum diketahui keberadaannya. Hanya saja pengakuan tante Rani, Ibu Rani sekarang berada di salah satu Kota di Sulawesi sedangkan Ayah Rani memilih kawin dengan perempuan lain dan sekarang menetap di Surabaya.

Untuk mengetahui jejak pendidikan Rani juliani sangat sulit, namun berdasarkan informasi dari Yunita Ulfiani yang mengaku sebagai teman SMP Rani mengatakan bahwa Rani Juliani Tamat di SMPN 3 Kota Tangerang pada Tahun 2002 dan melanjutkan pendidikan pada salah satu SMA swasta di Tangerang. Menurut Delianto salah seorang guru SMA swasta tersebut mengatakan bahwa Rani adalah salah seorang siswa yang cerdas dan pernah mewakili sekolahnya pada Olimpiade Sains tingkat Kota Tangerang pada Tahun 2003.

Setelah menamatkan pendidikan SMA Rani ingin kuliah tapi tidak ada biaya untuk masuk di salah satu Perguruan Tinggi sehingga Ia memilih berprofesi sebagai caddy di salah satu Padang Golf yang tidak jauh dari rumah neneknya.

Di Padang Golf tersebut menjadi awal pertemuannya dengan Direktur PT. Putra Rajawali Banjaran (PRB) Nasrudin Zulkarnaen. Rani adalah gadis yang baik dan sopan sehingga mendapatkan tempat yang istimewa di hati Nasrudin Zulkarnain. Pertemuan antara keduanya semakin sering bahkan Nasrudin sudah diperkenalkan Rani Juliani kepada neneknya. Dari nenek Rani Juliani pula Nasrudin mengetahui bahwa Rani adalah anak cerdas yang ingin kuliah.

Suatu waktu Nasrudin Zulkarnain mengajak Rani untuk berlibur ke Bali akan tetapi Rani menolak karena takut jangan sampai terjadi apa-apa dengan dirinya maklum Rani adalah perempuan yang sangat menjaga kehormatan dirinya. Nasrudin tetap memaksa hingga akhirnya rani setuju dan memberikan satu syarat “Rani akan Ikut, jika Adik, Nenek dan Kakaknya ikut juga sementara seluruh biaya ditanggung Nasrudin”. Nasrudin sebagai orang kaya menyanggupi syarat itu dan berangkatlah mereka ke Bali. Sesampai di Bali mereka jalan-jalan dan menikmati keindahan pantai Bali hingga di suatu malam, Nasrudin menyampaikan kepada keluarga Rani bahwa Ia akan menikahi Rani Juliani. Keluarga Rani-pun senang dan setuju dengan keinginan Nasrudin Zulkarnain hanya Rani sendiri yang tidak setuju. Rani mengatakan bahwa Ia tidak akan menikah sebelum cita-citanya tercapai hingga membuat Nasrudin Terkejut. Nasrudin penasaran dengan cita-cita Rani Juliani yang tidak pernah terungkap selama mereka saling kenal. Di suatu pagi menjelang kepulangan mereka ke Banten, Nasrudin menanyakan cita-cita dambaan hatinya tersebut dan Rani-pun berterus-terang bahwa ia ingin kuliah untuk menjadi seorang Ahli Komputer. Sepulang dari Bali Nasrudin semakin sering berkunjung ke rumah nenek Rani sehingga Nasrudin Zulkarnain sudah dianggap sebagai bagian dari keluarga Rani. Nasrudin sering datang ke rumah Nenek Rani, membuat Rani jarang masuk kerja karena harus menemani Nasrudin cerita di Rumah Neneknya. Pada akhir bulan Mei 2007 Rani memutuskan untuk keluar dari tempat kerjanya karena sudah mendaftar kuliah pada STIMIK Raharja Tangerang dan mulai saat itu semua kebutuhan Kuliah Rani ditanggung oleh Nasrudin Zulkarnain. Di Hari Minggu, Nasrudin Zulkarnain diajak oleh Antasari Azhar untuk bermain Golf di lapangan golf faforitnya. Dengan senang hati Nasrudin memenuhi ajakan sahabatnya. Untuk lebih meriahnya permainan, Nasrudin mengajak kekasihnya dan Rani Juliani sangat senang dengan ajakan itu karena Rani ingin sekali bertemu dengan teman-teman kerjanya di lapangan golf itu. Sesampainya di Lapangan Golf, Antasari menanyakan kepada Nasrudin tentang hubungannya dengan Rani karena Antasari Tahu bahwa Nasrudin telah beristri dan teman perempuan yang datang ke Lapangan Golf itu bukan istri Nasrudin. Untuk menjawab rasa penasaran sahabatnya, Nasrudin mengenalkan Rani Juliani pada Antasari Azhar. Dan disaat itulah Antasari jatuh hati pada Rani Juliani kekasih sahabatnya. Berawal dari pertemuan di Padang Golf, Antasari Azhar makin penasaran dengan perempuan bernama Rani Juliani. Tanpa malu-malu Antasari Azhar meminta nomor HP Rani Juliani kepada Nasrudin Zulkarnain. Awalnya Nasrudin enggan memberikan Nomor HP itu, tapi Antazari mengancam akan melaporkan Nasrudin kepada Istrinya tentang hubungan Nasrudin Zulkarnain dengan Rani Juliani. Akhirnya setelah melalui pertimbangan panjang Nasrudin memberikan Nomor HP Rani kepada Antasari Azhar sahabatnya. Lewat nomor itu, Antasari Azhar sering mengirim sms kepada Rani Juliani dengan memakai inisial Azhar. A. tapi tak pernah digubris oleh Rani. Semakin lama, sms Azhar. A. semakin sering masuk di HP Rani membuat Rani merasa takut. Ketika Nasrudin berkunjung ke rumah Rani, sms Azhar. A. masuk. Rani dengan cepat menghapus sms itu dan segera mematikan HP-nya. Nasrudin heran dengan tingkah Rani saat itu, dan menanyakan ada masalah apa dengan HP Rani. Rani menceritakan semua tentang isi sms yang sering masuk di HP-nya beberapa minggu terakhir. Rani Juliani sangat terkejut ketika mengetahui sms yang sering masuk di Nomor Ponselnya berasal dari Ponsel seorang pejabat Negara. Nasrudin menjelaskan kalau nomor yang mengirim sms adalah milik Antasari Azhar ketua KPK. Nomor HP Rani Juliani diberikan oleh Nasrudin Zulkarnain ketika Antasari memintanya. Hari berikutnya masuklah kembali sms dari Azhar. A. dan Rani-pun membalasnya dengan sopan. Perkenalan antara Rani Juliani dan Antasari Azhar makin luas mulai dari alamat rumah, keluarga, tempat kuliah sampai masalah pribadi. Suatu waktu Antasari Azhar berkunjung ke Kota tangerang dalam rangka urusan KPK. Dia memanggil Haryo Wibisono putra mantan Kasdam IV Diponegoro untuk menemaninya. Sepulang dari urusan kerja, Antasari Azhar menyempatkan diri singgah di Rumah Rani Juliani. Untuk menghindari pantauan Wartawan dan masyarakat umum, Antasari Azhar bersama Haryo Wibisono menumpang sebuah taksi menuju rumah Rani. Di rumah neneknya rani menemui ketua KPK itu. Mereka saling bercakap dan bercanda tentang sms yang pernah dikirim oleh Azhar. A. Dalam waktu yang tidak lebih dari setengah jam, Antasari bersama Haryo Wibisono pamit meninggalkan rumah Rani tapi sebelum pamit, Antasari sempat menelpon Nasrudin dan menyampaikan kalau saat itu Ia sedang di Rumah Rani. Nasrudin merasa tidak enak dengan kehadiran Antasari di Rumah Rani, dengan agak marah Ia segera menelpon Rani. Rani Juliani menjelaskan kalau kedatangan Antasari ke rumahnya bukan permintaan Rani atau direncanakan sebelumnya. Kedatangan Antasari hanya kebetulan belaka karena waktu itu Antasari berkunjung ke Kota Tangerang Banten dan pulangnya sempat menyempatkan diri ke rumah Rani.

Kronologi Kasus Pembunuhan Nasrudin:
Dalam waktu sekitar satu setengah bulan, polisi berhasil mengungkap tabir di balik kasus pembunuhan Direktur PT PRB Nasrudin Zulkarnaen Iskandar. Pengungkapan kasus ini berawal dari kesaksian para saksi di lokasi penembakan, kemudian polisi menemukan motor Yamaha Scorpio yang digunakan pelaku penembakan. Setelah itu, polisi kemudian menangkap Heri Santosa, pengemudi Yamaha Scorpio itu di kawasan Menteng Atas, Setiabudi, Jakarta Selatan. Dari pengakuan Heri, kemudian nama para tersangka lainnya terungkap. Kombes Pol Wiliardi Wizar dan Komisaris PT Pers Indonesia Merdeka (PIM) Sigid Haryo Wibisnono kemudian juga ditangkap. Dalam jumpa pers di Mapolda Metro Jaya, Senin (4/5/2009), Kapolda menjelaskan kronologi pengungkapan kasus pembunuhan Nasrudin ini. Namun, Kapolda menjelaskan kronologi ini dengan menyebut para tersangka dengan inisial-inisial. Kapolda juga tidak menyebutkan motif pembunuhan terhadap Nasrudin. Kapolda juga belum menyebut peran Antasari Azhar secara jelas dalam kasus ini. Penjelasan Kapolda tentang ini sama dengan data kronologi pengungkapan kasus Nasrudin yang diterima detikcom. Bahkan, data tersebut sudah mengungkap motif pembunuhan dan peran Antasari. Berikut kronologi lengkap yang didapatkan detikcom:

1. Dari hasil olah TKP yang dilakukan Tim Labfor Mabes Polri dan hasil analisa dari keterangan saksi yang ada di TKP diperoleh informasi bahwa pelaku menggunakan sepeda motor Yamaha Scorpio warna biru dan dibuatkan sketsa wajah pelaku dari keterangan saksi Sarwin yang berada di dekat TKP. Sarwin merupakan saksi yang saat kejadian penembakan, berada hanya 5 meter dari mobil Nasrudin.

2. Selanjutnya dilakukan penyelidikan dan diperoleh informasi adanya seseorang yang memiliki kendaraan roda dua dengan ciri-ciri seperti yang di TKP dengan pemilik bernama Heri Santosa, beralamat di Menteng Atas Kecamatan Setiabudi, Jakarta Selatan. Setelah dilakukan pengecekan ke alamat tersebut, ditemukan sebuah sepeda motor Yamaha Scorpio warna biru no pol B 6862 SNY dan selanjutnya dilakukan penangkapan terhadap tersangka Heri Santosa. Heri Santosa mengaku sebagai pengemudi sepeda motor (pilot) dalam penembakan terhadap korban Nasrudin.

3. Heri Santosa mengaku saat kejadian dia mengendarai kendaraan tersebut bersama-sama dengan Daniel yang melakukan penembakan sebanyak dua kali terhadap korban dari arah sisi kiri kendaraan BMW B 191 E warna silver di Jalan Hartono Raya Kompleks Modern Land, sekitar 900 meter dari lapangan Golf Modern Land Tangerang pada Sabtu, 14 Maret 2009 sekitar pukul 14.00 WIB, sesaat setelah korban selesai bermain golf. Dalam pemeriksaan, diperoleh keterangan bahwa Heri Santosa dan Daniel mendapatkan pesanan untuk melakukan pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen dari Hendrikus Kia Walen.

4. Selanjutnya dilakukan penangkapan terhadap Hendrikus Kia Walen di Menteng Dalam Atas Jakarta Pusat. Rumah Hendrikus hanya berjarak sekitar 50 meter dari rumah Heri Santosa. Pengakuan Hendrikus, di lokasi penembakan saat itu adalah Heri Santosa (sebagai pilot), Daniel (sebagai eksekutor) dengan menggunakan sepeda motor Yamaha Scorpio warna biru, sementara Fransiskus Alias Ansidan sdr SEI (sebagai pengawas) dengan menggunakan kendaraan Avanza B 8870 NP. Hendrikus Kia Walen sebagai penerima dan pemberi order. Dari keterangan Hendrikus diketahui bahwa Hedrikus menerima uang sebesar Rp 400 juta dari Edo, dengan perincian: dibagikan ke masing-masing Heri Santoso Rp 70 juta, Daniel Rp 70 juta, Amsi Rp 30 juta, Sei Rp 20 juta, dan sisanya untuk Hendrikus serta biaya operasional sebesar Rp 100 juta.

5. Dari hasil pemeriksaan terhadap Hendrikus diketahui bahwa senjata api yang digunakan jenis Revolver kaliber 38 berikut peluru 6 butir yang masih ada di dalam silinder, dua sudah ditembakkan dan empat masih belum ditembakkan yang ditanam di halaman rumah di Tebet Jakarta Selatan. Selanjutnya senjata api itu disita dan dilakukan uji balistik Labfor Mabes Polri. Hasilnya, peluru itu identik dengan anak peluru yang ditemukan di tubuh Nasrudin.

6. Dari pengakuan Hendrikus, diperoleh keterangan tentang keberadaan Fransiskus. Polisi akhirnya menangkap Fransiskus alias Amsi di Batu Ceper Kali Deres Jakarta Barat. Saat diperiksa, Amsi mendapat uang Rp 30 juta, kemudian Hendrikus memberi dana operasional kepada Fransiskus sebesar Rp 15 juta untuk membeli senjata api dan sebesar Rp 5 juta untuk menyewa kendaraan Avanza.

7. Dari hasil peneriksaan Heri Santosa, dilakukan penangkapan terhadap Daniel (penembak/eksekutor) di Pelabuhan Tanjung Priok sewaktu pulang dari Flores dengan menggunakan kapal laut Silimau. Saat diperiksa, Daniel mengaku mendapatkan pesanan penembakan terhadap Nasrudin dengan mendapat imbalan uang Rp 70 juta.

8. Kepada polisi, Hendrikus mendapat pesanan penembakan terhadap Nasrudin dari Eduardus Ndopo Mbete alias Edo. Kemudian polisi menangkap Edo di rumahnya di Jalan Jati Asih Bekasi. Edo mengakui dan membenarkan pengakuan Hendrikus. Kemudian dilakukan pendalaman terhadap Edo untuk mengetahui motif dan siapa yang menyuruh Edo untuk melakukan penembakan terhadap Nasrudin.

9. Saat diperiksa, Edo mengaku mendapat perintah untuk membunuh korban dari Wiliardi Wizar (Kombes Polisi). Edo bisa bertemu Wiliardi atas prakarsa Jerry. Sebelumnya Wiliardi meminta Jerry untuk mencari orang yang dapat melakukan pembunuhan terhadap Nasrudin. Untuk itu, Jerry kemudian mengatur pertemuan Wiliardi dengan Edo di Halai Bowling Ancol. Selanjutnya dilakukan penangkapan terhadap Jerry di Perumahan Permata Buana Jakarta Barat.

10. Jerry mengaku bahwa Wiliardi bertemu dirinya di Halai Bowling Ancol untuk mencari orang yang dapat melakukan pembunuhan terhadap Nasrudin. Saat itu, dia mempertemukan Wiliardi dengan Edo. Saat itu, Edo dijanjikan imbalan Rp 500 juta. Pada pertemuan itu, diserahkan foto korban dan foto mobil yang biasa digunakan korban kepada Edo.

11. Kepada polisi, Edo mengaku menerima uang sebesar Rp 500 juta dari Wiliardi di lapangan parkir Citos (Cilandak Town Square) Jakarta Selatan. Berdasarkan keterangan Edo dan Jerry, selanjutnya dilakukan penangkapan terhadap Wiliardi Wizar di Taman Ubud Lippo Karawaci Tangerang.

12. Dari pemeriksaan Wiliardi, diperoleh keterangan bahwa uang yang diserahkan kepada Edo berasal dari Sigid Haryo Wibisono dan atas sepengetahuan Antasari. Sebab, saat Sigid memberikan Rp 500 juta kepada Wiliardi, Sigid menelepon Antasari untuk mengkonfirmasi penyerahan uang tersebut sebagai biaya operasional di lapangan. Maka pada hari Selasa 28 April 2009, polisi menangkap Sigid di Jalan Pati Unus 35 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

13. Dari hasil pemeriksaan Wiliardi dan Sigid diperoleh keterangan bahwa yang mempunyai keinginan untuk menghilangkan nyawa Nasrudin adalah Antasari Azhar. Sebab, Nasrudin sering meneror dan memeras Antasari dengan ancaman akan membongkar perselingkuhan Antasari dengan istri siri Nasrudin bernama Rani yang terjadi Hotel Grand Mahakam Kebayoran Baru Jaksel sekitar bulan Mei 2008. Karena ancaman tersebut dirasakan sudah sangat mengganggu baik diri pribadi maupun istri dari Antasari, maka Sigid menghubungi Wiliardi untuk meminta bantuan pembunuhan terhadap Nasrudin. (asy/nrl)