Rp 100 ribu = Rp 120 ribu?

1 10 2009

Membagikan ‘amplop’ bagi sanak saudara, terutama bagi anak-anak, keponakan, prunan, dan lain-lain, merupakan bagian dari tradisi berlebaran masyarakat kita. Kebiasan berbagi uang receh semacam ini memberikan kegembiraan bukan saja bagi anak-anak yang menerimanya, tetapi juga bagi orang tua yang membagikannya. Bank Indonesia (BI) pun tanggap dengan kebiasaan ini. Maka, di hari-hari menjelang lebaran, milyaran rupiah uang receh baru, dengan satuan Rp 1.000, Rp 2.000, Rp 5.000, sampai Rp 10.000, disebarkan oleh BI.

Uniknya penyebaran uang receh ini bukan saja terjadi di bank-bank, melainkan juga terjadi di pinggir-pinggir jalan. Dalam hari-hari terakhir Ramadhan, menjelang lebaran 1430 H ini, misalnya, di berbagai ruas jalan di Jakarta kita melihat para penjaja uang receh ini berjejer di tepi jalan. Mereka menawarkan uang receh di atas untuk ditukar dengan uang kertas dengan satuan besar.

Tetapi benarkah yang mereka tawarkan adalah sekadar jasa penukaran? Kenyataannya para penukar uang itu memberikan nilai yang lebih kecil kepada pihak lain yang menyerahkan uang dengan satuan besar. Kongkritnya 100 lembar uang dengan satuan Rp 1000 ditukarkan dengan uang Rp 110.000 atau bahkan Rp 120.000. Ada selisih 10-20%. Pertukaran sendiri sebenarnya merupakan transaksi yang terjadi melalui pergantian suatu benda dengan benda yang lain. Benda-benda ini bisa sejenis bisa berlainan jenis. Marilah kita pahami hukum pertukaran menurut syariat Islam. Hukum Islam membedakan keduanya. Dalam hal benda berlainan jenis disebut sebagai perdagangan (al buyu), sedangkan bila yang dipertukarkan adalah sejenis, dinamakan pertukaran (sarf). Keduanya memiliki hukum yang berbeda. Rasul, sallalahu alayhi wa sallam bersabda:

Transaksi pertukaran emas dengan emas harus sama takaran dan timbangannya, dari tangan ke tangan (kontan), kelebihannya adalah riba; perak dengan perak harus sama takaran dan timbangannya, dan dari tangan ke tangan (kontan), kelebihannya adalah riba; tepung dengan tepung harus sama takarannya dan timbangannya, dan dari tangan ke tangan (kontan), kelebihannya adalah riba; korma dengan korma harus sama takaran dan timbangannya, dan dari tangan ke tangan (kontan), kelebihannya adalah riba; garam dengan garam harus sama takaran dan timbangannya, dan dari tangan ke tangan (kontan), kelebihannya adalah riba. (HR Muslim)

Hadits di atas berlaku bagi penukaran benda sejenis: emas dengan emas, perak dengan perak, korma dengan korma, garam dengan garam, tepung dengan tepung. Syarat sahnya adalah harus sama nilai dan takarannya, dan kontan. Bila salah satu berlebih, atau salah satu ditunda penyerahannya, muncullah unsur riba. Pada yang pertama riba karena unsur tambahan disebut riba al fadl. Pada yang kedua riba karena unsur penundaan disebut riba an nasi’ah.

Jadi, jelaslah pada penukaran uang dalam satuan besar dengan uang receh di atas, dimana salah satu pihak meminta tambahan, 10-20% , mengandung riba – dalam hal ini, bila dilihat dari ‘nilai’ nya, adalah riba al fadl.

Lain halnya bila pertukaran itu terjadi antara dua benda berlainan. Misalnya emas ditukar dengan perak, atau perak ditukar dengan seekor ayam, maka dibolehkan terjadi perbedaan, sepanjang dibayarkan dengan kontan. Ini masuk kategori jual-beli.

Tetapi, kita harus lebih cermat dan tepat memahami masalah perbedaan jual-beli dan tukar-menukar ini bukan dari kesejenisan atau perbedaan benda-benda yang dipertukarkan semata. Melainkan, hal ini terkait dengan pengertian alat tukar (medium of exchange), yang digunakan sebagai medium pertukaran yang umum sifatnya. Inilah yang sesungguhnya kita kenali sebagai mata uang. Ini untuk membedakan dengan petukaran, atau jual beli, yang acap kita sebut sebagai barter.

Ketetapan dari Rasulullah, sallalahu alayhi wa sallam berikut ini memberikan kejelasan bagi kita bahwa pertukaran dua benda sejenis pun ada yang dibolehkan dengan perbedaan, tanpa menimbulkan riba. Contoh yang diberikan adalah penukaran seekor onta (yang gemuk dan tua) dengan beberapa ekor onta (kecil dan muda). Sepanjang pertukaran itu tetap dilakukan secara kontan.

Jangan kamu bertransaksi satu dinar dengan dua dinar, satu dirham dengan dua dirham; satu sa’dengan dua sa’ karena aku khawatir akan terjadinya riba (al Rama’). Seseorang bertanya: ‘Wahai Rasul, bagaimana jika seseorang menjual seekor onta dengan beberapa ekor kuda atau seekor onta dengan beberapa ekor onta?’ Jawab Nabi, sallalahu alayhi wa sallam, ‘Tidak mengapa, asal dilakukan dengan tangan ke tangan (kontan)’. (HR Ahmad dan Thabrani)

Perhatikan sekali lagi hadits di atas. Di situ Rasulullah, sallalahu alayhi wa sallam membedakan benda-benda tertentu, yang umum berlaku sebagai alat tukar (medium of exchange), yaitu dinar (emas) dan dirham (perak), dan benda-benda yang tak pernah berlaku sebagai medium pertukaran, seperti onta atau kuda. Bila kita kaitkan dengan hadits sebelumnya kita pun dapat memahami bahwa korma, tepung, serta garam -selain emas dan perak- termasuk medium pertukaran. Dengan kata korma, gandum dan garam, serta benda-benda sejenis itu seperti padi atau kedele, misalnya dalam konteks Indonesia, dapat digunakan sebagai alat tukar atau uang.

Perhatikan pula bahwa Rasulullah, sallalahu alayhi wa sallam memperlakukan korma sama dengan dinar atau dirham, melarang pertukarannya, kecuali dalam jumlah yang sama dan kontan. Mengapa? Karena korma, seperti halnya dinar dan dirham, juga gandum, barley, dan garam (sebagaimana ditunjukkan dalam hadits-hadits yang lain yang tak dikutip di sini), lazim dipakai sebagai alat tukar, yang tak lain berfungsi sebagai uang.

Dari sisi lain, dengan hadits ini kita diberi pengertian lain pula bahwa uang, sebagai medium pertukaran, dalam syariat Islam haruslah terbuat dari komoditi dan karenanya memiliki nilai intrinsik. Di antara benda-benda yang disebut di atas yang terbaik berlaku sebagai alat tukar dalam pengalaman manusia adalah (dinar) emas dan (dirham) perak.

Nah, kembali ke soal para penjaja uang receh di atas, jelaslah bahwa unsur ribanya bukan saja ada pada perbuatannya menukarkan kertas (100 lembar kertas yang masing-masing diberi nilai Rp. 1.000 dengan beberapa atau selembar kertas lain yang diberi nilai Rp. 100.000) dengan tambahan 10-20% itu. Melainkan, lembar-lembar kertas yang kita sebut sebagai uang kertas, dan berlaku sebagai medium pertukaran itu sendiri, adalah batil.

Kertas-kertas itu hampir tidak memiliki nilai intrinsik, kecuali beberapa gram massa kertas-kertas itu semata, dan tak layak menjadi alat tukar. Nilai nominal yang dibubuhkan di atasnya merupakan penggelembungan secara paksa (melalui hukum legal tender) yang tak lain adalah riba itu sendiri! Source: Wakala Induk Nusantara

Advertisements